Sabtu, 24 Oktober 2009

Jl. Merdeka 00.04

Aku ingat sebuah cerita yang sering didongengkan ayah. Tentang jalan-jalan hitam yang senyap. Tentang tahuntahun gerimis suram yang telah lewat. Seperti bunyibunyi tertahan yang hanya ditemukan dalam gelap. Kota ini bisu. Hening tak bernama menguasai. Di senyapnya terlihat pesona sayap-sayap kesunyian. Membuat mata kita melihat panah cahaya melesatkan jiwa kita ke syurga tanpa jejak.

Di bawah tapak kaki ibuku
2009

Terkurung

Bulan pucat. Redup. Gelap hati. Deru angin tak redareda. Impian tak jua usai. Gelisah bagai terbakar. Teratai biru itu layu. Bagai jiwa mabuk madu berubah sekam. Tak terlihat cerah. Malah awan hitam berarak. Dimana, waktu berlalu siasia. Angin merambah langit. Awan fajarpun sunyi. Terkurung ribuan gunung. Tak ada tempat tuk terbang. Tak ada tempat tuk terbang.

Kamis, 17 September 2009

"Suatu pagi, aku melihat ibu mati"

20 Agustus 2009 jam 15:59


Langit hitam
burung-burung gugup berlari
seekor naga tajam menukik
pucuk-pucuk sayapnya memercik bara
panas bertebaran
topan menari ganas
ketakutan menyemprot ke langit
aku melihat prajurit-prajurit tua bergelimangan darah sambil memeluk pedang
jerit kehidupan mulai hilang perlahan
ibu, aku melihatnya
naga itu marah ibu, luar biasa murka

Rumah-rumah gubuk, pohon-pohon jati, bukit-bukit gundul
remuk dilibas
rata jadi tanah
semua ibu
kecuali aku
ku pegang pedang itu dengan erat ibu
akan aku bunuh naga itu untuk ibu
dia pasti aku hancurkan
tapi kenapa ibu diam?
kenapa ibu malah berbalik pergi?
aku akan membela ibu,
aku akan berusaha agar ibu tidak terluka
tiba-tiba aku rebah
mataku terpejam

Aku melayang kini
mungkinkah aku tertidur?
malam ini tak biasanya aku tidur bermimpi.

Gelap
terbangun aku di kesunyian
aneh
untuk subuh yang biasanya riuh
tak ada bedug adzan
tak ada kokok ayam tetangga
tak ada teriakan penjual sayur
tak ada ketok penjual susu

Ranjang ibu kosong, juga dingin
ibu ke mana?
aku tiba-tiba panik
aku harus cari ibu
ibu, kemana ibu
rasa dingin tiba-tiba merayapi punggung kecilku

Aku memburu menuju dapur tua milik kami
dan benar
aku mendapati ibu di sana
bukan mencuci piring
bukan mengiris bawang
bukan pula membuat teh
ibu kaku
wajah ibu putih
sangat putih untuk pagi yang biru
dadanya menganga luka
membualkan darah merah
kental
bau anyir menguar keseluruh dapur tua kami


aku mendekat
di sana
di balik pintu
aku lihat
ayah tersenyum puas
memegang sebilah belati berkilatan
duniaku seketika hitam, ibu





Singkawang, 21 juni 2009







Komentar Publish Fb :


'Nandez Capricornidas', Fira Rachmat, Sayuri Yosiana dan 9 lainnya menyukai ini.
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
Wuih..
puisi yang penuh makna...

Catt. mengurangi imajinasi..
Sedih...
20 Agustus jam 16:05 · Hapus
Arif Gumantia
Arif Gumantia
aku baca cerpennya arvianti itu ida...makanya aku baca sejak bait awal kok ada kemiripan sebuah gagasan pokoknya...
yang jelas aku suka diksi metaforanya...
salam dari madiun
20 Agustus jam 16:06 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
aku suka sensitifitasmu memahami coret hitam salah satu potret kehidupan sekitar kita ini ida. dalam suatu rumah tangga,...har seperti ini makin rentan terjadi kala kini. dan penggambaranmu pada kemurkaan itu,..luar biasa.
20 Agustus jam 16:06 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
iya ida cantik. seperti kata mas frans, tulisan catt di bawah puisi jgn ditulis. jelaskan saja di kotak kotak komentar ini. ttg inspirasimu. ok dear.....

muaaaaaah...
20 Agustus jam 16:11 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Catt ;
terinspirasi sebuah koran harian ibu kota
yang menulis tentang seorang ibu di bunuh suaminya gara-gara menolak di jadikan pelacur
ia di bunuh di depan anak kandung mereka. juga dari cerpennya arvianti armand....yang berjudul "Pada suatu hari ada ibu dan Rahadian"
... Baca Selengkapnya
@bung frans....neh sudah sy jalankan keinginan bung frans dan mb anita...heheheheh, makasih.....banget

@bung arif...iya bung arif..saya sangat2 terkesan dengan cerpen itu, di tambah lagi dengan membaca berita yang memilukan hati saya

@Mb sandra: iya mb...saya sangat berterima kasih mbmau meluangkan waktu membaca note sy ini, hehehehhe,

@Mb anita : ini semua juga berkat dorongan mb yang selalu meminta saya menulis puisi....muachhh tooo buat mb yu yang cantik
20 Agustus jam 16:26 · Hapus
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
@ Ida Nursanti & Anita
Tepat... catatan berada di komentar...
semakin indah puisinya...
:-)
20 Agustus jam 16:31 · Hapus
Antok Serean
Antok Serean
cukup mencekam.
20 Agustus jam 16:31 · Hapus
Faradina Izdhihary
Faradina Izdhihary
Bener, puisimu ini cantik banget.aku suka. muatan isinya dalem banget
20 Agustus jam 16:34 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
thanx bung frans...
antok, cuma segitu komentarnya????
kritikan kek...apa aja, saya pasti akan sangat berterima kasih
20 Agustus jam 16:34 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih mb faradina, saya merasa tersanjung...namun kalau bisa ada kritikan biar saya bisa belajar dari kesalahan....
20 Agustus jam 16:44 · Hapus
Trisna Bs
Trisna Bs
menyentuh... membuat hati sedih pilu....
pantaslah kita bersyukur atas rahmat kehidupan yang kita alami saat ini, disekilingi orang2 yang penuh kasih dan sayang....
20 Agustus jam 16:44 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih buat jempol mungilnya mas cepi, bung bayu, shushan, mas arif, mb sandra juga bung frans...
20 Agustus jam 16:45 · Hapus
Jeppe Indrawisudha
Jeppe Indrawisudha
Ida, ini mengingatkanku pada puisiku Seorang Lelaki Mati di Kedai Kopi yang belum kunjung selesai setelah dianggit sejak dua bulan lalu. Keliaran imajinasi memang perlu keberanian bahkan pada persoalan mati seperti ini.
20 Agustus jam 16:45 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
puisi ini mengingatkanku pada cerpen teguh - seorang anak yang membunuh bapaknya, dan sang bapak yang telah membunuh ibunya. tentu saja puisi ini adalah puisi yang bagus. perpindahan dari imaji yang dijadikan intro puisi, untuk suatu pelepasan tidur/tak kuat, tak berdaya dari kenyataan yang ada. atau mimpi? tapi ia berjuang dengan pedangnya. ibu ... Baca Selengkapnyayang membalik seakan dalam dunia yang sureal: seorang yang tak berkata meninggalkan kita di tengah malam buta.

ayah yang menyeringai seakan gila. dan dapur? bumbu tempat hidup di masak itu. dan naga, yang mungkin sang ayah atau sang ayah dari ayah luasnya dunia. puisi masuk ke dalam dunia mimpi dan tak perlulah lagi kita menegakkan kejelasan logika puisi dalam arti, semua itu bisaa terjadjadi dalam suatu kehendak penyair, yang meniatkan puisinya bergerak dari seolah jaga seolah mimpi.

menarik melihat ibu yang diam, dan ayah yang menyeringai. dua tokoh inilah yang menyembunyikan ledakan lubang tempat puisi sembunyi di dalamnya.
20 Agustus jam 16:52 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Jeppe Indrawisudha : hehehehhe, aku tunggu puisi itu bung jeppe....bener....

Jurnal Sastratuhan Hudan : saya yang bodoh ini meminta maaf jika ada khilaf dan lupa yang membuat bung hudan merasa tersinggung, ya Allah maafkanlah saya, amin... saya sedang mencerna komentar bung hudan, dan saya pelajari dengan cermat...ga puasa ya bung hudan..mari puasa bersama kami, melunturkan segala kotor dalam diri...terimakasih bung hudan....saya belajar banyak di FB ini...
20 Agustus jam 17:12 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Puisi apik Ida. Inboxmu sudah daku baca. Kita bahas nanti ya, sayang. Setelah daku di Singkawang. hihihi..
20 Agustus jam 17:16 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
thanx, buat mb hanna....di tunggu komentarnya neh...juga buat bung cepi, hehehehhe ga cm jempol aja ya bung cepi...coz jempol banyak maknanya
iya trisna...kita harus sangat2 bersyukur kita dilimpahi rahmat yang tak berbataas itu
20 Agustus jam 17:17 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
menunggunya aja berdebar-debar mb, aku selalu menunggu-nunggu komentar dari ceceku ini...hiks...
20 Agustus jam 17:45 · Hapus
Kwek Li Na
Kwek Li Na
salut sama karyamu ini Ida.

bercerita dalam puisi. kesedihan seorang anak, ketakberdayaan seorang perempuan.

Oh...Dunia...aku ingin meminta sepotong adil padamu, hingga hal2 begini tak pernah terjadi lagi :)
20 Agustus jam 18:01 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih cece lina....
sebagai perempuan memang kadang kita tidak mendapatkan keadilan di dunia. namun kelak di akhirat pasti kita kan mendpatkan keadilan dan kebahagiaan.
20 Agustus jam 18:18 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
duh Ida, puisimu sangat menggetarkan perasaanku. betapa banyak kekerasan di sekitar kita saat ini. dan endingnya, hiks..spechless Da daku. kamu memang dahsyat. makasih ya, teman.
20 Agustus jam 20:58 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
belum sempat baca semua... bisnya panjang... Hiks... Hiks... ntar d baca dulu ya IDA... baru bisa lanjut coment... :-)
20 Agustus jam 21:45 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih yuri...
aku hanya ingin protes atas kekerasan dan pelecehan yang terjadi pada perempuan.....
topan mah...janji mau komen tapi ga ada
wkwkwkwkwk
20 Agustus jam 23:00 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Wow...adindaku ini ternyata piawai berpuisi...puisimu bagus dinda...sungguh mba sampai menganga nih takjub. Awal yang mengembara dalam impi berakhir mencekam. Kisah ibu yang mengharu biru...sarat makna, makasih udah berbagi puisimu yang indah ini dinda. salam.
21 Agustus jam 0:08 · Hapus
Arta Nauli
Arta Nauli
nak berkate ape? elok....
21 Agustus jam 1:39 · Hapus
Purwono Nugroho Adhi
Purwono Nugroho Adhi
tutur dramatiknya terasa,
prolog mengurai memperpanjang makna pada rajutannya,
hingga diakhiri dengan tragis, perpindahan surelis ke realis,
puitika gelap dengan epilog yang lugas dan pas,
... Baca Selengkapnya
jika ini film, linier dengan ciri sutradara Sam Mendes
21 Agustus jam 9:32 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
thanx to :
mb fira :ah mb ku satu ne bisaaaaaa aja, adinda jadi malu ....
@Arta Nauli : heheheh, dah bise ke cakap bahase kamek??? bahasemelayu??? ah bung arta ini, saya kan banyak belajar dari bung arta, saye cume pemule di dunia satra ne, jadi masih, terase sangat banyak kekurangannnye....
@Purwono Nugroho Adhi : mas adhi, selamat puasa ya....saya fikir pujian dan sanjungan yang ada terlalu berlebihan,,,saya masih harus belajar banyak dengan mas adhi dan kawan-kawan yang lain...
21 Agustus jam 14:40 · Hapus
Eka Ganti Nama Lagi
Eka Ganti Nama Lagi
Sesuatu yang terampas dari ....
Mencoba berteriak agar ....
Habis sudah air mata untuk ....
ibu,
Pagi itu,... Baca Selengkapnya
iya kah..?
ada yang terambil...
mengapa tak renggut kembali..
ibu... HAJAR SAJA!!!
agar tak lagi hitam!!!
haha..
21 Agustus jam 16:30 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih eka ganti nama lagi......apresiasi yang menghibur saya sebagai seorang pemula
22 Agustus jam 15:37 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
uik... uik... puisi ini jadi gx bagus karena ada kata-kata "topan menari ganas"... he.he.he... tp bukan topan asri kan ida????
22 Agustus jam 22:38 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih mas top...
hehehehhe
mas top ada2 aja...
thanks...udah mau mampir di note dan kasi komentar
22 Agustus jam 22:44 · Hapus
Rama Prabu
Rama Prabu
ow...perih...letih...!
31 Agustus jam 10:09 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih mas rama...sudah mau berkunjung di note saya yang masih banyak kekurangannya ini....
31 Agustus jam 16:06 · Hapus

Di halaman Masjid TUa

26 Agustus 2009 jam 23:03


Halaman Masjid Tua
awal musim hujan
tangkai-tangkai mawar basah tertiup angin
menutupi pagar besi bercat lumut
Kembang sepatu mekar di sekeliling air mancur
Gerimis pagi itu, menggenangi halaman
Mungkinkah aku abaikan rindu, Ibu
Rindu yang datang bersama angin musim paling dingin
Aku rindu pada bunyi bedug, Ibu
rindu suara muadzin yang menggema
rindu riuh tapak-tapak kaki di halaman .
Malam datang membingkai getar cinta
mencetak mimpi syurga pada rembulan pucat yang hadir setelah hujan
Aku sedang di perjalanan menuju rumah-Nya
tidak melamun di bangku stasiun tua yang sunyi
aku berdiri di tengah musim ayat-ayat cinta berdengung
Tujuh Likur aku datang mengunjungi-Nya



Komentar Publish FB :


Hs Mbelink, 'Nandez Capricornidas', Yayan R. Triyansyah dan 10 lainnya menyukai ini.
Kuni Ahmed
Kuni Ahmed
mantep nih singkawang....puisinya-apalagi.....lagi dunk mbak......
26 Agustus jam 23:07 · Hapus
Cepi Sabre
Cepi Sabre
dari catatan perjalanan ke puisi. hehehe ... asik .. asik.

saya suka 'tujuh likur' itu. apa artinya 27 atau ada istilah yang islami ?
26 Agustus jam 23:07 · Hapus
Kuni Ahmed
Kuni Ahmed
Likuran-kalo dibanten tu seminggu terakhir puasa....
26 Agustus jam 23:10 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
mantap... makasih sudhi berbaghi... :-)
26 Agustus jam 23:13 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
yup....mas cepi....yang di bilang kuni ahmed itu benar...sama kok istilahnya...
makasih telah mau berkunjung di note saya....
26 Agustus jam 23:13 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
yup mas tophan...makashi jugha telah mengunjungi note shaya
26 Agustus jam 23:14 · Hapus
Keroncong Sunyi
Keroncong Sunyi
Kurasakan dunia lain dari makna puisi itu. Dunia yg transendal yang ingin diwujudkan akulirik di garis hidupnya
makasih puisinya
26 Agustus jam 23:25 · Hapus
Eka Ganti Nama Lagi
Eka Ganti Nama Lagi
mengapa sebatas halaman?
Persilahkan aku ke dalam.
:)
26 Agustus jam 23:26 · Hapus
Arif Gumantia
Arif Gumantia
catatan perjalanan juga bisa indah dalam bentuk puisi..ayo bikin lagi keindahan lainnya di singkawang.
26 Agustus jam 23:31 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Keroncong Sunyi : hehehehhe, makasih ya fitrah....telah mengunjungi note ku.....

Eka Ganti Nama Lagi : yah, aku persilakan engkau masuk eka...heheheheh sesama muslim pasti akan saling berbagi
26 Agustus jam 23:32 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
apik da. tak bisa komen banyak banyak utk karya yg bagus. angle foto masjid itu dari samping ya ? lebih keren kalo dari depan da. akan keliatan ciri khas-nya secara utuh.
26 Agustus jam 23:33 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
heheheheh, makasih mas arif....namun ini bukan catatan perjalanan....
mb anita, ne dari depan...tapi gambar ne ga seutuhnya karena masjid ini di foto sebelum di renovasi....melebar ke samping...karena keterbatasan tempat.....
26 Agustus jam 23:35 · Hapus
Arif Gumantia
Arif Gumantia
iya...bener..cuma menurutku saat kita ada disebuah tempat yang menginspirasi kita untuk menulis puisi dengan asosiasi ke sebuah hal lainnya..sedangkan tempat tersebut ada dalam lirik..kalaulah dikembangkan akan terasa indah..
karena penikmat puisi tanpa ada gambarnya pun tetap bisa merasakan suasananya. dan jika itu di buat sebuah rangkaian perjalanan dari tempat yang satu ke tempat lainnya..bener-2 indah. sebuah catatan perjalanan yang puitis dan bukan sebuah jurnalisme.
26 Agustus jam 23:48 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
wah...makasih mas arif....saya sangat terkesan mas arif mau membaca dan berkunjung ke note saya...alhamdulillah....
26 Agustus jam 23:50 · Hapus
Muhammad Hasan Basuni
Muhammad Hasan Basuni
awas roboh masjidnya karna udah lapuk temboknya
27 Agustus jam 1:57 · Hapus
Amik Koofee
Amik Koofee
asyik puisinya ida,membuat bergambaran saja di ingatan suasana yang memang penuh dengan renungan itu. thanks ya
27 Agustus jam 3:01 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Keren, ah. I luv it... Muaaah.
27 Agustus jam 5:31 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
aq selalu haru bila membaca puisimu spt membaca bagian dari diriku. ada sentuhan tersendiri bagiku disana.
Ida, aq setuju dengan mas Arif. dlm catatan perjalanan ala jurnalis aja kamu asyik banget loh, apalagi dlm bentuk puisi yg puitik hehe.
27 Agustus jam 6:08 · Hapus
Shu Shan Wang
Shu Shan Wang
Jmpol bt lu..
Tulisn u mank slalu indah n mngugah hati..terus berkarya y..
27 Agustus jam 6:55 · Hapus
Shu Shan Wang
Shu Shan Wang
Jmpol buat lu..
Tulisn u mank slalu indah n mngugah hati..terus brkarya y..
27 Agustus jam 6:55 · Hapus
Shaut Ls Hutabarat
Shaut Ls Hutabarat
Wow! dendang puitisasimu sangat kunikmati di masa bulan suci Ramadhan ini. "Tujuh Likur aku datang mengunjungi-MU"
27 Agustus jam 9:52 · Hapus
Pay Jarot Sujarwo
Pay Jarot Sujarwo
puisinya keren. tapi seandainya bisa lebih fokus, karena ibu dan Mu bukan satu. mungkin kalau -Mu, diganti dengan -Nya, bisa lebih berbunyi. sebab "ibu" tidak kehilangan makna. keren kawan. i like your poem
27 Agustus jam 14:50 · Hapus
Kwek Li Na
Kwek Li Na
keren. religinya kuat. senang membacanya.
27 Agustus jam 23:00 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Aihh aihhh indahnya puisimu dinda...puisi religi menggema dibulan suci ini...bagus banget dindaku makasih udah berbagi denganku yah...salam
27 Agustus jam 23:56 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Pay Jarot Sujarwo : makasih banyak sahabatku...hiks...aku kadang memang tidak sabaran...thanx...hihihi...

Shaut Ls Hutabarat : makasih my bro...duh...tak sabar menunggu-Nya mengunjungiku...

Kwek Li Na : makasih cece Li Na yang baik...aku terharu cece mau berkunjung di note ku...... Baca Selengkapnya

Maghfira Mimi : kakakku fira...ga mau ah pujian melulu...sebagai adik aku meminta sentilan..bukan sanjungan...tapi makasih ya kakak....

Shu Shan : wah...my best friend...aku juga nunggu tulisanmu...
28 Agustus jam 12:54 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Sayuri Yosiana : yuri, sentillah aku kalau memang dalam tulisanku ada yang salah...aku mohon sahabat...

Hanna Fransisca : mb...marahilah aku lagi...kalau memang tulisanku buruk...ya????pleasss....

Amik Koofee : amik..berkata yang jujur ya jika puisiku buruk...
28 Agustus jam 12:56 · Hapus
Yayan R. Triyansyah
Yayan R. Triyansyah
duh, baru sempat baca nih, maaf ya ida....

sajak ini mengalir dengan riuhnya,diksinya saling berkorelasi membangun makna...
30 Agustus jam 4:46 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih yayan....
apapun itu bentuk apresiasimu terhadap karyaku,namun makasiiiihhhh banget mau melongok isi note ku
30 Agustus jam 16:08 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Saya menghitung banyak penggunaan kata di ...di di awal, di sekeliling, di halaman, di perjalanan, di bangku, di tengah, dan juga kata itu ... rindu itu, bedug itum cinta itu .. mungkin menjadi seperti sayur kebanyakan garam atau gula... coba bedakan kalimat “di awal musim hujan” dan “awal musim hujan” atau kalimat “Aku rindu pada bunyi bedug itu, Ibu” dan “Aku rindu bunyi bedug, Ibu”.......
30 Agustus jam 17:05 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih ayah....semua hanya bisa memuji, namun tak ada yang memberikan kritikan yang aku inginkan...makasih ayah...
30 Agustus jam 17:19 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Mereka baik juga Suni....
30 Agustus jam 17:21 · Hapus
Muhammad Hasan Basuni
Muhammad Hasan Basuni
Puisi itu bukan karya ilmiah mengapa harus diedit atau direfisi. Puisi adlh ekspresi jiwa. Ia seperti air mengalir menganaksungai dan membasahi atau bah, seperti angin berhebus sepoy atau topan, seperti api membakar atau menghangatkan.....maaf ya terserahlah.....
04 September jam 1:39 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Muhammad Hasan Basuni :mengapa mesti meminta maaf?????
Loektamadji A Poerwaka : iya ayah...^ _ ^
04 September jam 22:37 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
puisi begitu indah. bergetar dari hati penyairnya. dari suatu masa yang ia akrabi. panggilan itu terasa dalam. saya terlena dengan bait ini:

"Aku berjalan menuju rumah-Nya
tidak melamun
di bangku ... Baca Selengkapnya
stasiun tua yang sunyi"

"Malam datang membingkai getar cinta
mencetak mimpi syurga pada rembulan pucat yang hadir setelah hujan" - tapi bait ini kukira masih bisa dipakaikan baju puisi.

sory ya ida yang keras hati hihi itu pengelihtanku aja. bisa benar bisa salah tapi mungkin benar hehe
08 September jam 20:01 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
iya, terima kasih tuan hudan yang juga sangat baik...saya merasa saya emmang masih harus banyak belajar....salah satunya dari tuan hudan dan semua kawan-kawan di FB ini...
saya akan perhatikan saran dari bung hudan....
08 September jam 21:14 · Hapus
Muhammad Hasan Basuni
Muhammad Hasan Basuni
kenapa masjdinya ko" direnovasi?. kalau sudah direnovasi berarti masjidnya tidak jadi tua lagi dong...berarti tema puisinya harus diganti dengan masjid kenangan itu. sorry ikut campur...
09 September jam 0:28 · Hapus

Sebuah drama dari negeriku

09 September 2009 jam 22:39

Ratna, sangat mencintai negerinya. Hingga dia rela menjual tubuhnya pada Negeri asing. Negeri yang kata orang bisa merubah nasib. Hingga ia nekat pergi meninggalkan anak dan suami, dan Negeri yang ingin ia sumbangi sedikit rejeki. Hingga bisa diakui sebagai anak Negeri.

Suminten begitu mencintai Negerinya. Sungguh, tak ragu, walaupun ia Cuma seorang pelacur. Dia juga tahu kalau korupsi masih saja ada. Walau KPK sudah ada. Dia mendengarnya dari laki-laki berdasi yang suka mengajaknya mesum di losmen murahan.

Larasati begitu namanya. Ia cinta akan tanah airnya. Walau ia Cuma seorang artis viguran yang hanya di bayar seratus ribuan, namun di ranjang lumayanlah dibayar jutaan. Dia juga tau kalau Negara kita tetap saja bergantung pada hutang. Kalau ditanya darimana ia tahu, ah dia hanya mengibas bahu.

Tak usah bertanya pada Marsinah betapa cintanya ia pada Negaranya. Tak tergiur Dollar, Ringgit ataupun Dinar. Ia tetap setia di tanah tumpah darah warisan orang tua. Kumpul bersama sanak keluarga. Makan tak makan asal kumpul. Walau terpaksa merelakan tubuh dijamah habis-habisan oleh bandot tua majikan tempat ia mencari sesuap makan.

Kau tahu, aku juga cinta. Sangat cinta. Pada Negeriku ini. Pada bangsaku ini.

Tempat rakyatnya dikirim keberbagai Negara. Diberi gelar “pahlawan Devisa.” Yang untung kalau pulang selamat, tubuh utuh, tak jadi mayat.

Tempat rakyat perempuan memamerkan paha dan membuka dada. Menjual tubuh demi selembar lima puluhan. Dicacimaki pelacur murahan oleh politisi berjas yang puas menggerayangi semalaman.

Tempat rakyat perempuan tertindas. Tak peduli TKW, Pelacur, dan artis viguran. Hingga Buruh di Negeri sendiri.

Aku serupa penonton di bioskop yang memutar film-film penganiayaan. Aku sedih, aku menangis, aku tertawa. Hanya itu. Aku hanya bisa tersedu sambil menikmati gambar-gambar di televisi. Melihat banyak perempuan yang dianiaya entah drama di televisi atau catatan harian buruh migran yang terlanjur mati.








Dari tempat ku bernaung : Singkawang, 16 agustus 2009


Komentar Publish FB :


Shu Shan Wang, 'Nandez Capricornidas', Trisna Bs dan 15 lainnya menyukai ini.
Anggun Veranantika
Anggun Veranantika
mantab, mbak...wah, nampaknya kata2mu yang tadi menghilang (;anggap tercecer) sudah dapat kau kumpulkan lagi ya....??? siiippp...
09 September jam 22:44 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Anggun Veranantika : wah berlebihan kawan.....hiks...bukan yang ne...ini bukan puisi hanya sekedar catatan ringan....hiks...kritik buat negeri yang sangat kucintai juga kritik buat kita2 pemuda Indonesia...
makasih kawan...mau menjadi pembaca pertama dan apresiasinya sangat berharga,......
makasih...o iya panggil aja ida...
thanx...
09 September jam 22:48 · Hapus
Anggun Veranantika
Anggun Veranantika
siapa yang berlebihan...??? apa yang aku tulis ya apa yang aku rasakan setelah membaca katakatamu. hehehe.

ok, ida salam kenal....
09 September jam 22:50 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih anggun....hiks...
salam kenal...jadi besar kepalaku neh
anggun...
09 September jam 22:52 · Hapus
Kwek Li Na
Kwek Li Na
Ida...ini puisi yang tersedih pernah kubaca di FB ini.

aku meniti air mata.

Hidup pilihan. namun apakah kami punya pilihan.... Baca Selengkapnya

thanks Ida agak tenang cc balik koment lagi :)
09 September jam 22:54 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
ceceku yang lembut dan manis...
aku cuma menuliskan apa yang aku lihat, aku juga sedih cece tak dapat berbuat apa-apa...hanya bisa melihat...namun aku bertekat, akan kutulis cerita dan derita itu,,,,agar semua orang bisa merasakan dan merasakan dan lebih merasakan apa yang buruh-buruh itu, rasakan....
cece....memang benar hidup itu pilihan....
makasih cece, mau selalu berkunjung di note saya
09 September jam 23:04 · Hapus
Zulfaisal Putera
Zulfaisal Putera
Perempuan!
Aku selalu merasa getir membicarakan sisi laranya!
09 September jam 23:07 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Tragis ironis iya, Da. Kita doakan ya semoga negeri ini lebih baik.
09 September jam 23:07 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Hanna Fransisca : ceceku...ne bukan puisi menurutku...hanya sekedar kritikan aja soal masalah perempuan yang tak pernah tuntas di negeri kita. aku sedih cuma bisa menonton, tanpa bisa menolong, makanya aku hanya bisa menulis untuk mereka.

Zulfaisal Puteram : iya bang zul...saya hanya menulis ini karena geram terhadap keadaan dan pemerintah...
09 September jam 23:10 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih buat jempol mungil kawan-kawan...
09 September jam 23:10 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
Unik... entah prosa,puisi,atau apalah namannya... Yg jelas Ida menulis sesuai FAKTA yang tak terbantahkan...
Sy suka jiwa pertentangannya... Slamat Berjuang sobat... ^_^
09 September jam 23:11 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih mas top yang selalu tampil elegan dalam komentar2 nya.....
makasih....
09 September jam 23:13 · Hapus
Kika Syafii
Kika Syafii
Syukurlah kalau masih bisa menikmati suguhan itu, bila sudah mati rasamu berarti kamu serupa jadi pejabat.
09 September jam 23:26 · Hapus
Kika Syafii
Kika Syafii
Atau penyair yang hanya onani itu.
09 September jam 23:27 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih bung kika....ternyata anda selalu mau mengunjungi note-note saya yang sederhana ini...benar karena note ini hanya sebuah kritikan yang sederhana dari pemikiran yang sederhana pula, namun saya ingin mudah di tangkap maknanya oleh si mpembaca yang bukan kalangan penyair....
09 September jam 23:29 · Hapus
Penyair Kecil
Penyair Kecil
Keperduliaan yg sangat tinggi terhadap saudara sebangsa. teruslah ketuk MATA HATI mereka dengan tulis2 kamu yang begitu RAPI.
10 September jam 0:40 · Hapus
Yayan R. Triyansyah
Yayan R. Triyansyah
lanjut terus Ida.....
10 September jam 1:33 · Hapus
A Pan Di
A Pan Di
miskin membuat banyak penderitaan. dilihat, dibaca dan didengar tapi di mana tangan-tangan itu? malah seperti dicipta makin menjadi-jadi....
10 September jam 3:16 · Hapus
Aries Yulianto
Aries Yulianto
Tulisan yang lahir dari jiiwa bersih penulisnya.
Seorang yg tak berdaya membaca zaman dan kelakuan manusia.
Selalu dan masih , perempuan2 itu teraniaya di negerinya sendiri.
10 September jam 6:23 · Hapus
Bayu Soponyono
Bayu Soponyono
Serasa menonton reality show.
10 September jam 6:53 · Hapus
Cepi Sabre
Cepi Sabre
potret yang unik dari makhluk yang bernama perempuan
10 September jam 9:14 · Hapus
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
Tulisan yang menyentuh.
Permasalahan seperti ini memerlukan multidisiplin pendekatan, multidisipilin pengetahuan, dan multidisiplin ilmu.
Sangat kompleks, tapi selalu berawal dari pengajaran dan pendidikan di rumah dan sekolah, kemudian pendidikan dan pengalaman yang memperteguh akan kemuliaan seorang manusia.

Saya sampai sekarang secara umum tidak respek dengan acara televisi yang mengumbar kekerasan dan merendahkan martabat manusia.... Baca Selengkapnya

Hal sederhana tapi penting, kalau razia selalu yang dikejar-kejar dan ditangkap adalah wanita (dalam hal prostitusi).

Memangnya hanya perempuan bisa melakukan prostitusi?
Seharusnya para lelaki juga harus ditangani lebih serius.
10 September jam 10:56 · Hapus
Purwono Nugroho Adhi
Purwono Nugroho Adhi
cerita perempuan,
cerita antara tubuh dan pilihan cinta,
sebuah kontempatio yang mengingatkan,
pada eleven minutes karya paulo coelho
10 September jam 11:14 · Hapus
Hs Mbelink
Hs Mbelink
Yang paling aku suka dari penyair dan seniman seperti kalian, adalah kejujuran. untuk membagi potret kehidupan disekitar kalian !

Dan yang selalu aku kagumi, adalah ketulusan manusia-manusia seperti kalian.

kabarkan padaku lagi pesan yang baru kau bawa pulang dari pengembaraanmu ida !
10 September jam 11:47 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
luar biasa Ida!! kau memang tajam memandang sudut miris negara kita. perempuan. yah, perempuan. kadang kita sendiri bungkam. kita diam. kita takut. atau tak mau ribut. kita sendiri kurang memperjuangkan keperempuanan kita. perempuan masih begitu rendah dipandang. uh. gerah aku membicarakan ini. perempuan masih terjajah, bahkan dalam kelompok terkecil masyarakat kita, keluarga.

secara tulisan, aku suka plot yang kau sajikan diatas. kau perempuan hebat. terimakasih karna kepedulianmu atas ini.
10 September jam 13:47 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
ciamik ida. tulisan ini sederhana. tapi kekuatannya ada pada kisah yang kau angkat. ttg perempuan2 yang berjuang. entah demi motif apa pun (ekonomi atau idealisme) semua realitas yg kau tulis dalam prosa sederhana ini bisa membuka mata lebih lebar.

bahwa apa yg kau ungkap dalam kisah sederhana ini terjadi dimana-mana. diberbagai belahan dunia. tidak hanya di singkawang, indonesia tapi mana bumi di pijak !
10 September jam 15:14 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
menggetarkan sekali tulisanmu ida. sangat menyentuh. secara aq juga prempuan yg hanya bisa membayangkan seandainya posisiku seperti perempuan 2 yg kamu kisahkan itu. meski hanya lewat tulisan, semoga gaungnya tetap menembus ruang dan waktu.
seperti kata pepatah latin, verba valent, scripta manent : ucapan akan mudah hilang, tulisan akan tetap hidup selamanya. bravo ida !
10 September jam 16:04 · Hapus
Trisna Bs
Trisna Bs
sesaat membuat terhenyak... inilah realiti kehidupan....kadang begitu menakutkan bahkan hanya untuk ditatap..... namun ia tetap tuk dihadap....
Bagus teman.. aku suka....
10 September jam 17:05 · Hapus
Aku Diriku
Aku Diriku
kenyataan yang tak terpungkiri....... dan ironisnya ada sebagian yang justru menari-nari dalam kenyataan ini.. thank's sahabat...
10 September jam 19:09 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Walau hanya catatan ringan buatmu tapi sangat besar makna yang terkandung di dalamnya dinda...tulisan yg mengupas sudut wanita mantap dindaku...makasih ya udah berbagi denganku say,salam.
11 September jam 0:07 · Hapus
Ricky Idaman
Ricky Idaman
sangat memprihatinkan, o..h tariklah napas yang panjanmg photret ini menghibau kita untuk berbagi rasa..
11 September jam 2:02 · Hapus
Shaut Ls Hutabarat
Shaut Ls Hutabarat
suarakan terus perjuangan penistaan kaum wanita! tulisanmu ini menarik sekali untuk penggambaan kaum munafik.
11 September jam 9:56 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Penyair Kecil : terima kasih kawan....semoga mereka bisa membuka mata hati, yaitu mereka2 yang melecehkan kaum perempuan....
Yayan R. Triyansyah : makasih kawan....namun apa yang harus aku teruskan????mirip2 Lanjutkan aje
A Pan Di : yah...begitulah potret kehidupan yang ada bung A Pan Di
Bayu Soponyono : reality show?????aku kurang mengerti maksudnya....bung bayu
Cepi Sabre : begitulah mas cepri...perempuan memang unik, memang selalu penuh hal2 yang selalu saja membuat sebuah keistimewaan.... Baca Selengkapnya
Frans. Nadeak : saya sependapat dengan bung frans...makanya saya menulis ini, bukan berarti saya mau di sebut perempuan yang sok peduli hanya di FB, tapi saya memang benar2 peduli...halnya permpuan memang selalu di salahkan, mereka toh tidak bisa berbuat apa2 jika tidak ada lawannya. tidak akan ada penjual jika tidak ada pembeli. yah, kan memang bukan hanya perempuan yang menjual diri, laki2 juga ada. namun kenapa hanya permpuan yang dicacimaki, di hina....
11 September jam 16:32 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Purwono Nugroho Adhi : makasih mas adhi, sudah mau berkunjung ke note sederhana ini....
Hs Mbelink : terima kasih HS, saya hanya mencoba jujur bukan hanya pada orang lain, namun terlebih pada diri sendiri.

Sandra Palupi : mb Sandra yang manis, memang, saya hanya bisa melihat, namun saya tak mau hanya melihat, saya terlebih tak mau merasakan hal yang sama seperti hal yang mereka rasakan. wah, mb Sandra berlebihan, sy perempuan biasa yang masih harus terus belajar dari mb dan kawan2 di Fb.
... Baca Selengkapnya
Anita Rachmad : wah, akhirnya mb Anita kyu muncul lagyi, hehehehe, makasih mb...saya hanya berusaha untuk menulis dan berjuang lewat tulisa...yah tak muluk2lah..hanya mengincar piala Nobel...
wkwkwkwwk

Sayuri Yosiana : makasih sayuri...mudah-mudahan tulisan saya tetap dikenang ya???walaupun cuma Sayuri yang ingat...hehehhhe

Trisna Bs : kawanku...makasih telah mau membaca. inilah bentuk kepedulian kita sebagai seorang PEREMPUAN....
11 September jam 16:40 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Aku Diriku : makasih juga sahabat...yah begitulah hidup ini, memang banyak orang yang menyanyi gembira di atas pedih orang lain.

Fira Rachmat : terima kasih mb firaku yang baik...semoga kita kaum Perempuan lebih peduli lagi.

Ricky Idaman : yup mas Ricky, saya mengambil potret2 ini di Internet....hehehe semoga yang punya tak marah.... Baca Selengkapnya

Shaut Ls Hutabarat : terima kasih bang shaut, wah tadi mau balas pesannya kehabisan pulsa neh bang, heheheheh semoga abang senang. makasih ya bang atas kepedulian abang dengan membaca note sederhana ini.
11 September jam 16:44 · Hapus
Tulis komentar...

Uma' Serupa Izroil*

11 September 2009 jam 17:33


“Mak kan tau, saye baro’ nak dare?”*



Tak ada yang tau aku berjalan dalam angin yang basah dan berjubah kabut dari selatan. Tak ada yang tahu serpihan cahaya menjelma menyelimuti tubuh tipisku. Tak ada yang tau malam itu Izroil menyeretku setengah berlari, ia menaikkan kain di dadanya menuju tanggul dermaga. “Malam ini aku di jemput maut.” Namun bisikku dengan segera lenyap ditelan cacimaki.

Aku ingin tidur. Tidur yang sembari memeluk harap. Namun aku terjaga saat diriku telah berada di tungku nista. “Mak, kenapa kau membakar orok merah?” Inginku gertak begitu.

Lama aku tatap mata izroil, seperti daun beringin tua di bawah jembatan agen*. Aku menguning dan luruh. Izroil, mencekal jemariku, dan tak ada yang tau ketika malam itu. Aku terhuyung menuju kampong kuale*, mendaki bukit, menuruni lembah, mengendap di sudut-sudut jalanan kote Singkawang.

Nafasku tersengal, ketika Izroil menghelaku ke bibir dermaga. Di ujung malam, sampan kayu merapat senyap. “Kau harus pergi.” Bisik Izrail. Aku serapuh tepung kini. Angin basah membawa jasadku berlayar. Membelah teluk menuju laut terjauh. Kulihat serpihan cahaya berpendar searah dermaga. Samar aku dengar Uma’ menjerit




















Catt;
“Mak kan tau, saye baro’ nak dare?”* : bahasa melayu Singkawang/Sambas yang berarti : "Ibu kan tahu saya baru saja dara/gadis/baru mendapatkan haid pertama.

Izroil :adalah malaikat pencabut nyawa...

Jembatan agen adalah jembatan tua di Singkawang yang terletak di Jalan Merdeka, jembatan ini di buat oleh kolonial Belanda.

Kampung Kuale adalah kampung atau desa Nelayan. yang di ujung kampung terletak sebuah teluk yang bermuara di Laut lepas. Rencananya pelabuhan tua itu akan di buat pelabuhan besar tempat kapal dagang masuk, oleh pemerintah namun sekarang "Terlantar" karena terjadi KKN besar2an di sana.



Komentar Publish FB :


Prasetyo Samandiman, Frans. Nadeak, Imam Setiaji Ronoatmojo dan 14 lainnya menyukai ini.
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Ha... Ha... Ha...! Kita jadi koruptor juga, yuk. Eh, ga ding. Moga aja para koruptor itu cepat bertemu dengan Izroil. Berhubung tidak semua teman beragam Islam, alangkah baiknya Izroil itu juga diberi catatan kaki, Da.
***
Puisinya tragis menyentuh, Da. Malam nasib sang 'dare'.
11 September jam 17:39 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Hanna Fransisca : hahahahahah, jangan mb, ntar kawan2 yang lain mau ikutan jadi koruptor ntar kita ga kebagian jatah deh...hheheh iya mb, kan ku kasi juga...aku lupa tadi...
hik...puisi ini jadikan berkat semangat dan dorongan mb Hanna ku tersayang...ceceku yang berhati putih, kalau ku bilang dari emas ntar orang nyatronin rumah mb lagi nyari2 emasnya...wkwkwkwwk...makasih ceceku...
11 September jam 17:42 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Sama-sama kasihnya diterima dan dirawat. Kalau boleh kupinta, jangan menyanjungku terlalu tinggi. Takut jatuh. Bukk! Patah kaki tangan ndak jadi maseleh. Takutnye, aku tok lupe diri... hihi...
11 September jam 17:46 · Hapus
Farhan Satria
Farhan Satria
Puisi ini mungkin dititipkan ke KPK aja ya, biar jadi ucapan selamat datang bagi para tikus negara..
11 September jam 17:47 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
wah, aku rasa tak berlebihan...aku bisa berdiri dengan kaki tak rapuh dalam menulis itu salah satunya berkat prang2 tersayang ya salah satunya ceceku ini.mb hanna ...ehem kalau jatuh mb pilih dari pohon ap?????jangan pohon kedongdong mb...dari pohon seri aje...
wkwkwkww
11 September jam 17:48 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Farhan Satria : hehehehe, bung Farhan bise aje.....hiks...semoga Pemerintah bisa membaca tulisanku ini...hiks...tapi ne bukan hanya sekedar menceritakan koruptor tapi lebih dari itu...
11 September jam 17:50 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
sttt. aku jadi sedih ingat kedondong mungil yang habis kita cicipi terus mati. pot-pot yang pecah. sttt. rahasia kita. wkwkkwkw
11 September jam 17:52 · Hapus
Aries Yulianto
Aries Yulianto
Cantik sungguh puteri Singkawang
sebagai selampai yang melambai
11 September jam 17:58 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Da, komengku di atas, malang maksudnya. Terketik malam lagi. Mentang-mentang malam ini akan bertemu... ehm... ehm...
11 September jam 18:00 · Hapus
Penerbit Kakilangit Kencana
Penerbit Kakilangit Kencana
Menarik, indah...
11 September jam 18:05 · Hapus
Zulfaisal Putera
Zulfaisal Putera
Puisimu kali ini bercerita banyak tentang hakikat hidup dan hubungan antarmanusia. Keterlibatan tokoh-tokoh lain dengan peran dan lakonnya masing-masing makin membuat kekuatan puisi bertambah. Perilaku aku lirik dengan 'izrail' dan pelibatan 'uma' dalam akhir puisi menjadi kunci bahwa imajinasi dan cinta telah mampu meluluhlantakkan logika kemanusiaan. Bahwa kematian itu begitu sulit diterima adalah simpulan indah puisi ini.

Ida,
Lanjutkan!
11 September jam 18:11 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
saya tak ragu lagi, penyair ida ini akan menjadi penyair besar. bersama penyair hanna juga. semoga instingku kelak terbukti benar. amin ya rab.

ih hihi
11 September jam 19:59 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
***Daku aminkan doa Bang HH. Amin. Terima kasih banyak, Bang.
11 September jam 20:03 · Hapus
Arif Gumantia
Arif Gumantia
ternyata singkawang bener-2 banyak penyair-penyair hebat.
puisi di atas..sungguh membawaku ke dalam makna imajinatif, religius, dan juga misterius.
tak mudah untuk membuat sebuah gagasan dalam puisi dengan kiasan, idiom dan juga metapora seperti di atas.
11 September jam 20:14 · Hapus
Cepi Sabre
Cepi Sabre
ih, ida yang dare singkawang, bagusnya.
11 September jam 21:16 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Hanna Fransisca : hiks...tentu saja ceceku, akan aku jaga rahasia kita, kecuali kepada angin yang berdesir...wkwkwkwk aku makin puitis ga mb????

Aries Yulianto : terima kasih mas aries....hehehhe
Penerbit Kakilangit Kencana: terima kasih sudah mau berkunjung ke note saya yang sederhana ini
... Baca Selengkapnya
Zulfaisal Putera : iya bang Zul, saya sangat berterima kasih bag zul mau membaca note saya yang masih harus banyak belajar ini bang.

Jurnal Sastratuhan Hudan : terima kasih bung hudan yang juga sangat baik, mau berkomentar di note saya yang sederhana dan mau meluangkan waktu "membacanya"......

Hanna Fransisca : setuju mb...kita aminkan saja, dan semoga aku tidak rusak karena pujian...

Arif Gumantia : terima kasih mas arif, sudah mau bertandang ke sini, namun saya tunggu majalahnya kok kagak nyampe2 juga ya????

Cepi Sabre : heheheh, mas cepi, bisa aje....saye memang nak dare singkawang asli mas...
11 September jam 21:26 · Hapus
Anggun Veranantika
Anggun Veranantika
wah, kau pandai sekali memainkan katakata dalam ranah etnografis, religi, misteri dalam satu tulisan...

aku suka dgn tulisanmu ini, mbak...!
11 September jam 21:55 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih anggun...
hehehee....makasih karena sudah sudi bertandang ke noteku...
11 September jam 21:59 · Hapus
Aming Kieva
Aming Kieva
kombinasi yang apik, tambah komplit dengan bahasa dan simbol2 tradisi yang kental asli singkawang. salut
11 September jam 22:07 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih mas aming....
maksih juga karena telah bertandang di note saya yang sederhana ini...
saya hanya ingin mengenalkan kota Singkawang kepada kawan-kawan
11 September jam 22:27 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
unik ya Ida... Biak Singkawang ya ida? He.he... Makasih ya udh berbagi karya penuh makna ini... ^_^
11 September jam 22:28 · Hapus
Imron Tohari
Imron Tohari
aku sependapat dengan mentorku Sastrawan Hudan Hidayat, dengan catatan Ida Nursanti tidak mudah patah arang mendapat kritik sepedas apapun, dan tidak lena dengan pujian semanis anggur. he he.

salam lifespirit!
11 September jam 22:38 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Topan Asri : terima kasih mas te-o-pe...sudah mau membaca note saya yang sederhana...aok be biak Singkawang saye

Imron Tohari : terima kasih mas Imron, mudah2an saya memang akan bisa menjadi besar tanpa tersandung kritikan dan terlambung dan mabuk dengan racun pujian
11 September jam 22:45 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih mb weni, ah mb bisa aja.....saya jadi malu...isin...
11 September jam 23:08 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
imajinasimu luar biasa da. kau ajak izroil 'bercanda' dgn cara berlari lari menuju dermaga. kematian seolah kau wujudkan serupa permainan petak umpet, yang siapa cepat dia dapat kematiannya!
dan kau pilih, kematian bunuh diri itu di tepi dermaga.
11 September jam 23:10 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
sangat menggetarkan. merinding bacanya. kamu memang dahsyat ida. ini aq save ya. so great !
12 September jam 8:59 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Anita Rachmad : hehehehhe....mb Anita...yang keren...kita main petak umpet yuk...namun siapa cepat ia yang mengunjungi...hehehe mau dunk ke malang....

Sayuri Yosiana : yuri sahabatku...ah, kau terlalu memuji kawan...nanti saya mabuk siapa yang mau nanggung???
wkwkwwk
12 September jam 13:37 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
ada warna lain di puisimu. dan lagilagi aku salut dengan rasa berbudayamu yg kuat, juga rasa cinta akan tempat dimana kau dilahirkan. kau munculkan hampir disetiap karyamu.
12 September jam 13:52 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
wah, ada mb Sandra...mb..makasih ya udah mau mengunjungi note ku yang sederhana ini...warna lain apakah itu mb???kalau aku boleh tau...aku memang cinta sekali dengan tanah kelahiranku....
12 September jam 14:03 · Hapus
Purwono Nugroho Adhi
Purwono Nugroho Adhi
tutur yang kelam nan berakater,
narasi heterotopia yang menawan,
ada dialog ruang dengan raga,
ada pemaknaan antara peristiwa dengan tempat,
triller yang menghentak, misterius, gelap... Baca Selengkapnya
satu persatu diurai dalam ruangnya,
pada satu cerita dituturkan
12 September jam 14:38 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih mas adhi, wah, saya dapat ilmu baru setiap mas adhi mengunjungi note saya......
12 September jam 16:13 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Hadduh,maaf daku telat berkunjung ke notemu say.. tulisan-tulisan dinda makin hari makin bernyawa,pandai nian dinda. Semoga niatmu memperkenalkan kota kelahiranmu melalui tulisan-tulisanmu kelak terlaksana bukan hanya di ruang ini,Insya Allah lebih dari ini say.Dindaku punya talenta itu. makasih udah berbagi ya say...salam.
12 September jam 19:56 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih juga sudah mau bertandang ke note saya mb firaku yang manis....ah terlalu banyak pujian di sini...kritikanlah sekali-kali...
life spirit mb ku yang cantik
12 September jam 20:41 · Hapus
Imam Setiaji Ronoatmojo
Imam Setiaji Ronoatmojo
@Ida..tulisannya semakin tajam neh, dan bentuknya antara prosa-puisi atau kusebut saja meta-puisi..bila dilihat begitu klu dieksplor malah jadi cerpen yang surrealis..wah, bisa seperti menukik-meliuk kayak lukisan salvador dali..teruslah berkarya Ida..
13 September jam 6:13 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih pak imam...support darim kawan-kawan akan sangat berarti buat saya....life spirit buat pak imam...
13 September jam 21:20 · Hapus
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
Liris...
saya mulai kagum dengang Singkawang..
:-)
Sen pukul 9:52 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
Ida,..warna yg berbeda dr puisi2mu sebelumnya. butuh kecerdasan khusus membuat puisi seperti yg kau tuturkan ini. sisanya,...sudah ada dalam komentar purwono nugroho adhi..hehehe.
Sel pukul 8:43 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Terima kasih mb Sandra...akhirnya aku tau warna-warni itu....
Sel pukul 22:53 · Hapus
Arta Nauli
Arta Nauli
apa yang hendak kukatakan? bukit-bukit yang mengelilingi kotamu itu selalu ingin kutatap, moga terwujud. hehe...
Sel pukul 22:59 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Insya Allah amin...Arta...ah...tak harus kata terucap kawan...
Sel pukul 23:02 · Hapus
Bejo Halumajaro
Bejo Halumajaro
makasih... mantab, semua memuji. tp kayaknya dalam Chatt blum ada arti: Uma'... sebenere cerita ttg aborsi ato korupsi?
Sel pukul 23:04 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
heheheh........
Uma' itu artinya Ibu dalam bahasa Indonesia
iya saya lupa makasih ya kawan....
sebenernya berceritera tentang kisah pilu seorang perempuan muda yang dipaksa ibunya menjual tubuhnya untuk negeri asing, namun ia memilih mati muda daripada berpisah dengan kota kelahirannya. Ia menganggap ibunyalah yang bertanggung jawab atas kematiannya.
namun sebenernya artinya luas kawan...terserah pembaca mengartikan lagi sajak ini.
Sel pukul 23:08 · Hapus
Prasetyo Samandiman
Prasetyo Samandiman
Singkawang... menantang telinga.

2 jempol buatmu

go girl..!
Kemarin jam 3:01 · Hapus
Acep Zamzam Noor
Acep Zamzam Noor
Asyik, asyik, asyik sekali mbak ida, semakin pengen ke singkawang....
Kemarin jam 13:03 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Acep Zamzam Noor : makasih mas Acep yang baik...sudah sudi bertandang ke note saya yang sederhana ini...
semoga sampai ke Singkawang....
6 jam yang lalu · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Prasetyo Samandiman : makasih mas Prasetyo...
terima kasih...buat dua jempolnya itu lho
heheheh
6 jam yang lalu · Hapus

MABUK

31 Juli 2009 jam 19:25

Aku melihatnya tadi sesudah ba'da subuh
dengan sebotol Bir murah di tangan kiri
dan bercelana jins berwarna biru tua
yang sudah lapuk di makan usia

Aku melihatnya lagi,
siang ini selepas ba'da zuhur
dia merapal mantra cinta
diselingi caci maki alat kelamin pria dan wanita
lalu ia melompati tembok bahasa
yang terpaksa ia dirikan saat akan mencampakkan,
secangkir kata-kata

(29 juli 2009)


catt;
berdebar hati tatkala akan mempublish puisi ini....
ah, tak apalah sebgai bekal di hari tua
saya berani memperlihatkan unkapan hati nurani di dalam dada


Komentar Publish FB :

Sayuri Yosiana, Antok Serean, Ping Homeric dan 5 lainnya menyukai ini.
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@topan and mb hanna, makasih ya jempolnya
31 Juli jam 19:29 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
***lalu ia melompati tembok bahasa
yang terpaksa ia dirikan saat akan mencampakkan,
secangkir kata-kata***

aku suka kalimat-kalimat itu, Da. Keren.
31 Juli jam 19:30 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
Mb Hanna Fransisca, Ini menurut ku yg mak nyusssssss:

***dia merapal mantra cinta
diselingi caci maki alat kelamin pria dan wanita***
... Baca Selengkapnya
nah... pada bagian itu keliatan deh gimana Ida sesungguhnya... Ha.ha.haaaaaaaaaaaaa
31 Juli jam 19:35 · Hapus
Ali Fanie
Ali Fanie
asyik juga karyanya mbak, sayang terpenggal dengan kalimat*** diselingi caci maki alat kelamin pria dan wanita** gregetnya jadi kurang, hehehehe..
31 Juli jam 19:37 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@Mb hanna : thanx ya mb buat komennya,mudah2an saya akan dapat lebih baik dalam menulis
@Topan : jangan gila dunk, biasanya orang mabuk itu kan ga sdar dengan apa yang ia katakan, kalau ia mabuk gara2 patah hati ia pasti akan marah dengan orang yang membuatnya hancur, biasanya (apalagi kasus pasha ungu) dia ga mabuk aja bisa memaki2 mantan istrinya dengan kata2 ga sopan seperti yang saya tulis tadi
@ali : thanx....terpenggal????
31 Juli jam 19:43 · Hapus
Jeppe Indrawisudha
Jeppe Indrawisudha
Kalau boleh tau, apakah ba'da juga berarti sesudah atau setelah? lalu imajinasi kata yang liar rasanya tak perlu dimintakan maaf lah....
31 Juli jam 19:55 · Hapus
Bayu Soponyono
Bayu Soponyono
Gambaran seorang pemabuk yg khas.
Telanjang dada dan menenteng botol.
31 Juli jam 20:19 · Hapus
Gus Cholid
Gus Cholid
lukiskan perasaanmu dalam tulisanmu
maka kau pun hidup dalam catatanmu
kendati kelak berwajah debu
31 Juli jam 21:20 · Hapus
Amik Koofee
Amik Koofee
"sebotol bir ba'da subuh"

ha ha ha ha, itu brillian ida.
31 Juli jam 23:23 · Hapus
Cepi Sabre
Cepi Sabre
bahasa, juga caci maki, menjadi berbeda di tangan penyair.
31 Juli jam 23:56 · Hapus
Ping Homeric
Ping Homeric
ada keliaran yg kau selipkan di sini dgn rasa yg berbeda... :) aku suka, kawan!... Trims tlah berbagi rasa yah!
01 Agustus jam 9:19 · Hapus
Purwono Nugroho Adhi
Purwono Nugroho Adhi
bertutur manis,
berkisah,
ada simpul yang tererat,
antara cerita dan maksud,
epilog mu itu
01 Agustus jam 15:06 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@jepe : iya ba'da itu sesudah atau setelah
@bayu : hehehehehhe, terinspirasi melihat lelaki mabuk di sudut pasar tradisional
@gus : maksud dari kelak berwajah debu itu apa????
amik : thanx yau
@cepi : terima kasih atas komennya mas cepi... Baca Selengkapnya
@ping : hehehehe keliaran yang membuat orang banyak merasa berbeda???
@Purwono : terima kasih,,,,,, saya merasa terengah-engah hari ini
01 Agustus jam 16:28 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
aih, kejujuran memang mendebarkan ida nursanti basuni. dan hasilnya, aku memang dibuat berdebar debar setelah membacanya. apakah ini ida yang asli ?
he..he...hua..ha.....ha..........
piiiz sist !
01 Agustus jam 18:48 · Hapus
Antok Serean
Antok Serean
nah, harus berani ida, jangan takut menulis, terlebih publish di fb. terbukti, puisi yang ini lebih bagus dari yang kemarin.
01 Agustus jam 22:06 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
wuiih...mantaff frend...aiih ida hehe, selepas ba'da subuh berikutnya, ajak daku melihatnya bersamamu, lelaki yg melompati tembok bahasa itu.
02 Agustus jam 23:16 · Hapus
Sufriady Saleh
Sufriady Saleh
Setuju sama jeppe
10 Agustus jam 2:54 · Hapus