03 Agustus 2009 jam 21:13
Sampai kemarin ku memanen tangis
mataku sembab, lebam, diziarahi nestapa
Hawa kematian
berlari memikul ribuan keranda
pontang panting di bulan juli yang merah
Setelah hati ini,
hangus jadi debu,
esok entah di mana kau tabur mesiu
Aduh, semua perih, semua ranap
hancur
mesiu bertaburan
wajahku tersayat-sayat
sakit
ngilu
Aduh,
aku tak sanggup
Kepala, jantung
dan seonggok tubuh malang
asyik berguling-guling di tengah derita
Aduh,
tak pelak
setetes harapan membusuk
menjadi bangkai di tengah-tengah
puing reruntuhan
Andai bisa menjadi tanah
Lenyap lara seketika
(1 agustus 2009)
Sufriady Saleh, Nani Mariani, Frans. Nadeak dan 7 lainnya menyukai ini.
Komentar Publish FB :
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
banyak orang di JW Marriot and Ritz carlton antok
03 Agustus jam 21:19 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Aku kosakata baru ya, Da? Hancu gitu? Hehe. July Merah. Sangat memilukan. Eh, aku sampai Singkawang kira-kira jam sebelas lewat. Mau cari makan di pasar Hongkong. Nyusul ih sama Topan.
03 Agustus jam 21:29 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Eh, kok aku. Maksudku ada. Huh! Maklumlah. Tulis di HP. Imut benar huruf2 dan sangat tak nyaman. Main ngeraba dalam gelap soalnya. Hahaha!
03 Agustus jam 21:31 · Hapus
Amik Koofee
Amik Koofee
menurutku aja sih, sepertinya lebih terasa kalo kamu nulis dengan pengucapan seperti ini hiks sory tapi bagus puisi ini hiks lebih terasa oh juli yang merah
03 Agustus jam 21:32 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
wuah....
thanx banget buat amik....
mb topan udah berlabuh di rumahnyua
dia besok harus bangun pagi.....tapi aku bisa nyusul dhe
buat mb q apa seh yang gak
03 Agustus jam 21:40 · Hapus
Ricky Idaman
Ricky Idaman
kalu kita buat sajaarena puisi..disini bagimana, banyak koleksi nantinya secara nasional..ok buat buku..gimana..?
03 Agustus jam 21:59 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
mau banget......tapi penelitian yang kemaren boleh juga
03 Agustus jam 22:10 · Hapus
Kwek Li Na
Kwek Li Na
bagus dan apik Ida.
03 Agustus jam 22:17 · Hapus
Nung Bonham
Nung Bonham
menyedihkan sekali...
03 Agustus jam 22:22 · Hapus
Ali Fanie
Ali Fanie
Jadi merasakan gimana perihnya terkena hantaman Bom, dan peluru, waahh aku malah masuk di dalamnya nih..asyik banget bacanya.
salam
03 Agustus jam 22:26 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
hik..hik...kau membuatku nangis ......
04 Agustus jam 0:21 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
mengharukan...juli g memerah
04 Agustus jam 1:00 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Derita nestapa mengapa kau toreh luka pada wajah manis ini.
Puisi yang mengharu biru...love it...salam yah dariku Fira.
04 Agustus jam 2:46 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
kyok lepsyas hehe keyak ya ida. ih fira i yura hehe
04 Agustus jam 9:06 · Hapus
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
Oh!
04 Agustus jam 10:26 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Mas Hudan oho oho oho...hiks!
04 Agustus jam 13:35 · Hapus
Imam Setiaji Ronoatmojo
Imam Setiaji Ronoatmojo
..@ Ida..puisimu yang ini kayaknya terlalu "metal" bagi mata tuaku..hehehe..tp teruslah berkarya ya..
04 Agustus jam 15:31 · Hapus
Nani Mariani
Nani Mariani
hikss...
dahsyat bombom bom bom itu
sampai ke telinga dan jantung ku
perih!!
maksih dan salam sayang dari hati..
06 Agustus jam 15:26 · Hapus
Sufriady Saleh
Sufriady Saleh
dan baju kebanggaanku
yang warnanya merah putih itu
koyak pada siku dan bahu
siku yang kusingsing ketika berpeluh
dan bahu tempat beban kutumpu... Baca Selengkapnya
dirobek benalu yang meranggas angkuh
yang melihat beda dengan kacamata bergagang kaku.
10 Agustus jam 2:46 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih buat mb nani mariani....hiks...salam sayang dan kasih juga dari hatiku terdalam mb...
mas sufri...makasih...
indah nian sajak itu...
menyentuh...
05 September jam 20:14 · Hapus
Kamis, 17 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar