Kamis, 17 September 2009

"Suatu pagi, aku melihat ibu mati"

20 Agustus 2009 jam 15:59


Langit hitam
burung-burung gugup berlari
seekor naga tajam menukik
pucuk-pucuk sayapnya memercik bara
panas bertebaran
topan menari ganas
ketakutan menyemprot ke langit
aku melihat prajurit-prajurit tua bergelimangan darah sambil memeluk pedang
jerit kehidupan mulai hilang perlahan
ibu, aku melihatnya
naga itu marah ibu, luar biasa murka

Rumah-rumah gubuk, pohon-pohon jati, bukit-bukit gundul
remuk dilibas
rata jadi tanah
semua ibu
kecuali aku
ku pegang pedang itu dengan erat ibu
akan aku bunuh naga itu untuk ibu
dia pasti aku hancurkan
tapi kenapa ibu diam?
kenapa ibu malah berbalik pergi?
aku akan membela ibu,
aku akan berusaha agar ibu tidak terluka
tiba-tiba aku rebah
mataku terpejam

Aku melayang kini
mungkinkah aku tertidur?
malam ini tak biasanya aku tidur bermimpi.

Gelap
terbangun aku di kesunyian
aneh
untuk subuh yang biasanya riuh
tak ada bedug adzan
tak ada kokok ayam tetangga
tak ada teriakan penjual sayur
tak ada ketok penjual susu

Ranjang ibu kosong, juga dingin
ibu ke mana?
aku tiba-tiba panik
aku harus cari ibu
ibu, kemana ibu
rasa dingin tiba-tiba merayapi punggung kecilku

Aku memburu menuju dapur tua milik kami
dan benar
aku mendapati ibu di sana
bukan mencuci piring
bukan mengiris bawang
bukan pula membuat teh
ibu kaku
wajah ibu putih
sangat putih untuk pagi yang biru
dadanya menganga luka
membualkan darah merah
kental
bau anyir menguar keseluruh dapur tua kami


aku mendekat
di sana
di balik pintu
aku lihat
ayah tersenyum puas
memegang sebilah belati berkilatan
duniaku seketika hitam, ibu





Singkawang, 21 juni 2009







Komentar Publish Fb :


'Nandez Capricornidas', Fira Rachmat, Sayuri Yosiana dan 9 lainnya menyukai ini.
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
Wuih..
puisi yang penuh makna...

Catt. mengurangi imajinasi..
Sedih...
20 Agustus jam 16:05 · Hapus
Arif Gumantia
Arif Gumantia
aku baca cerpennya arvianti itu ida...makanya aku baca sejak bait awal kok ada kemiripan sebuah gagasan pokoknya...
yang jelas aku suka diksi metaforanya...
salam dari madiun
20 Agustus jam 16:06 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
aku suka sensitifitasmu memahami coret hitam salah satu potret kehidupan sekitar kita ini ida. dalam suatu rumah tangga,...har seperti ini makin rentan terjadi kala kini. dan penggambaranmu pada kemurkaan itu,..luar biasa.
20 Agustus jam 16:06 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
iya ida cantik. seperti kata mas frans, tulisan catt di bawah puisi jgn ditulis. jelaskan saja di kotak kotak komentar ini. ttg inspirasimu. ok dear.....

muaaaaaah...
20 Agustus jam 16:11 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Catt ;
terinspirasi sebuah koran harian ibu kota
yang menulis tentang seorang ibu di bunuh suaminya gara-gara menolak di jadikan pelacur
ia di bunuh di depan anak kandung mereka. juga dari cerpennya arvianti armand....yang berjudul "Pada suatu hari ada ibu dan Rahadian"
... Baca Selengkapnya
@bung frans....neh sudah sy jalankan keinginan bung frans dan mb anita...heheheheh, makasih.....banget

@bung arif...iya bung arif..saya sangat2 terkesan dengan cerpen itu, di tambah lagi dengan membaca berita yang memilukan hati saya

@Mb sandra: iya mb...saya sangat berterima kasih mbmau meluangkan waktu membaca note sy ini, hehehehhe,

@Mb anita : ini semua juga berkat dorongan mb yang selalu meminta saya menulis puisi....muachhh tooo buat mb yu yang cantik
20 Agustus jam 16:26 · Hapus
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
@ Ida Nursanti & Anita
Tepat... catatan berada di komentar...
semakin indah puisinya...
:-)
20 Agustus jam 16:31 · Hapus
Antok Serean
Antok Serean
cukup mencekam.
20 Agustus jam 16:31 · Hapus
Faradina Izdhihary
Faradina Izdhihary
Bener, puisimu ini cantik banget.aku suka. muatan isinya dalem banget
20 Agustus jam 16:34 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
thanx bung frans...
antok, cuma segitu komentarnya????
kritikan kek...apa aja, saya pasti akan sangat berterima kasih
20 Agustus jam 16:34 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih mb faradina, saya merasa tersanjung...namun kalau bisa ada kritikan biar saya bisa belajar dari kesalahan....
20 Agustus jam 16:44 · Hapus
Trisna Bs
Trisna Bs
menyentuh... membuat hati sedih pilu....
pantaslah kita bersyukur atas rahmat kehidupan yang kita alami saat ini, disekilingi orang2 yang penuh kasih dan sayang....
20 Agustus jam 16:44 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih buat jempol mungilnya mas cepi, bung bayu, shushan, mas arif, mb sandra juga bung frans...
20 Agustus jam 16:45 · Hapus
Jeppe Indrawisudha
Jeppe Indrawisudha
Ida, ini mengingatkanku pada puisiku Seorang Lelaki Mati di Kedai Kopi yang belum kunjung selesai setelah dianggit sejak dua bulan lalu. Keliaran imajinasi memang perlu keberanian bahkan pada persoalan mati seperti ini.
20 Agustus jam 16:45 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
puisi ini mengingatkanku pada cerpen teguh - seorang anak yang membunuh bapaknya, dan sang bapak yang telah membunuh ibunya. tentu saja puisi ini adalah puisi yang bagus. perpindahan dari imaji yang dijadikan intro puisi, untuk suatu pelepasan tidur/tak kuat, tak berdaya dari kenyataan yang ada. atau mimpi? tapi ia berjuang dengan pedangnya. ibu ... Baca Selengkapnyayang membalik seakan dalam dunia yang sureal: seorang yang tak berkata meninggalkan kita di tengah malam buta.

ayah yang menyeringai seakan gila. dan dapur? bumbu tempat hidup di masak itu. dan naga, yang mungkin sang ayah atau sang ayah dari ayah luasnya dunia. puisi masuk ke dalam dunia mimpi dan tak perlulah lagi kita menegakkan kejelasan logika puisi dalam arti, semua itu bisaa terjadjadi dalam suatu kehendak penyair, yang meniatkan puisinya bergerak dari seolah jaga seolah mimpi.

menarik melihat ibu yang diam, dan ayah yang menyeringai. dua tokoh inilah yang menyembunyikan ledakan lubang tempat puisi sembunyi di dalamnya.
20 Agustus jam 16:52 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Jeppe Indrawisudha : hehehehhe, aku tunggu puisi itu bung jeppe....bener....

Jurnal Sastratuhan Hudan : saya yang bodoh ini meminta maaf jika ada khilaf dan lupa yang membuat bung hudan merasa tersinggung, ya Allah maafkanlah saya, amin... saya sedang mencerna komentar bung hudan, dan saya pelajari dengan cermat...ga puasa ya bung hudan..mari puasa bersama kami, melunturkan segala kotor dalam diri...terimakasih bung hudan....saya belajar banyak di FB ini...
20 Agustus jam 17:12 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Puisi apik Ida. Inboxmu sudah daku baca. Kita bahas nanti ya, sayang. Setelah daku di Singkawang. hihihi..
20 Agustus jam 17:16 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
thanx, buat mb hanna....di tunggu komentarnya neh...juga buat bung cepi, hehehehhe ga cm jempol aja ya bung cepi...coz jempol banyak maknanya
iya trisna...kita harus sangat2 bersyukur kita dilimpahi rahmat yang tak berbataas itu
20 Agustus jam 17:17 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
menunggunya aja berdebar-debar mb, aku selalu menunggu-nunggu komentar dari ceceku ini...hiks...
20 Agustus jam 17:45 · Hapus
Kwek Li Na
Kwek Li Na
salut sama karyamu ini Ida.

bercerita dalam puisi. kesedihan seorang anak, ketakberdayaan seorang perempuan.

Oh...Dunia...aku ingin meminta sepotong adil padamu, hingga hal2 begini tak pernah terjadi lagi :)
20 Agustus jam 18:01 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih cece lina....
sebagai perempuan memang kadang kita tidak mendapatkan keadilan di dunia. namun kelak di akhirat pasti kita kan mendpatkan keadilan dan kebahagiaan.
20 Agustus jam 18:18 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
duh Ida, puisimu sangat menggetarkan perasaanku. betapa banyak kekerasan di sekitar kita saat ini. dan endingnya, hiks..spechless Da daku. kamu memang dahsyat. makasih ya, teman.
20 Agustus jam 20:58 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
belum sempat baca semua... bisnya panjang... Hiks... Hiks... ntar d baca dulu ya IDA... baru bisa lanjut coment... :-)
20 Agustus jam 21:45 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih yuri...
aku hanya ingin protes atas kekerasan dan pelecehan yang terjadi pada perempuan.....
topan mah...janji mau komen tapi ga ada
wkwkwkwkwk
20 Agustus jam 23:00 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Wow...adindaku ini ternyata piawai berpuisi...puisimu bagus dinda...sungguh mba sampai menganga nih takjub. Awal yang mengembara dalam impi berakhir mencekam. Kisah ibu yang mengharu biru...sarat makna, makasih udah berbagi puisimu yang indah ini dinda. salam.
21 Agustus jam 0:08 · Hapus
Arta Nauli
Arta Nauli
nak berkate ape? elok....
21 Agustus jam 1:39 · Hapus
Purwono Nugroho Adhi
Purwono Nugroho Adhi
tutur dramatiknya terasa,
prolog mengurai memperpanjang makna pada rajutannya,
hingga diakhiri dengan tragis, perpindahan surelis ke realis,
puitika gelap dengan epilog yang lugas dan pas,
... Baca Selengkapnya
jika ini film, linier dengan ciri sutradara Sam Mendes
21 Agustus jam 9:32 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
thanx to :
mb fira :ah mb ku satu ne bisaaaaaa aja, adinda jadi malu ....
@Arta Nauli : heheheh, dah bise ke cakap bahase kamek??? bahasemelayu??? ah bung arta ini, saya kan banyak belajar dari bung arta, saye cume pemule di dunia satra ne, jadi masih, terase sangat banyak kekurangannnye....
@Purwono Nugroho Adhi : mas adhi, selamat puasa ya....saya fikir pujian dan sanjungan yang ada terlalu berlebihan,,,saya masih harus belajar banyak dengan mas adhi dan kawan-kawan yang lain...
21 Agustus jam 14:40 · Hapus
Eka Ganti Nama Lagi
Eka Ganti Nama Lagi
Sesuatu yang terampas dari ....
Mencoba berteriak agar ....
Habis sudah air mata untuk ....
ibu,
Pagi itu,... Baca Selengkapnya
iya kah..?
ada yang terambil...
mengapa tak renggut kembali..
ibu... HAJAR SAJA!!!
agar tak lagi hitam!!!
haha..
21 Agustus jam 16:30 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih eka ganti nama lagi......apresiasi yang menghibur saya sebagai seorang pemula
22 Agustus jam 15:37 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
uik... uik... puisi ini jadi gx bagus karena ada kata-kata "topan menari ganas"... he.he.he... tp bukan topan asri kan ida????
22 Agustus jam 22:38 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih mas top...
hehehehhe
mas top ada2 aja...
thanks...udah mau mampir di note dan kasi komentar
22 Agustus jam 22:44 · Hapus
Rama Prabu
Rama Prabu
ow...perih...letih...!
31 Agustus jam 10:09 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih mas rama...sudah mau berkunjung di note saya yang masih banyak kekurangannya ini....
31 Agustus jam 16:06 · Hapus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar