03 Agustus 2009 jam 20:49
Bulan juni tadi si Mamat menangis dalam gendongan
Sejak kemarin tak minum susu
Tetek emak kering kerontang serupa musim panas
"Tenanglah anakku sayang
Jangan kau menangis lagi
Lihat itu si penabur mimpi meneriakkan janji"
Mamat terus menangis hingga wajahnya putih
seputih susu formula yang harganya melambung akhir-akhir ini
bujuk sang emak tak geming, Mamat terus melengking
"Walau berdesak-desakan, walau perut kita lapar
Biar dahaga kerongkongan,
kau dan mak harus dengar janji dan pekik perubahan
agar kita bisa terus berharap nak.”
Lewat keheningan yang
Dibasuh Sorga, azan subuh menlengking memecah hening
pintu rumah di ketuk perlahan
sebuah plastik hitam dan amplop putih ia serahkan
dua kilo beras, sekaleng susu cap nona, dan sekilo gula pasir
namun amboi, terselip sebuah kertas di sana,
rupanya di lembar itu tertulis,
"jangan lupa pilih saya
jika ingin mendapatkan lagi plastik hitam yang sama di bulan puasa"
(2 agustus 2009)
Cepi Sabre, Imron Tohari, Sandra Palupi dan 6 lainnya menyukai ini.
Komentar Publish FB :
Kwek Li Na
Kwek Li Na
ha ha ha...keren!
03 Agustus jam 20:52 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
Keren da... lu belajar dimana da??? mantebs... :)
03 Agustus jam 20:53 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Wew! Tidak lagi nyindir si dia kan. Hahaha. Ingat kampanye euy! Aku tok agik di Pontianak dalam perjalanan ke Singkawang.
Puisimu asyik. Menceritakan kehidupan wong cilik. Aku jadi bertanya usil, Da. Andainya waktu kampanye itu panjang akankah kegiatan membagi sembako itu akan berlanjut panjang juga ya? Hahaha...! Ah, aku calonkan dirilah kelak kalau gitu. Doakan aku ih.
03 Agustus jam 20:54 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
thanx to kwek lina and topan
03 Agustus jam 20:54 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
kalau dukung mb pasti,,,aku siap jadi tim suksess, tapi ntar minta proyek bikin jalan yang gede ya, yang 500jt cukuplah
wkwkwkwkkw
asyikkkk mb pulang.....
03 Agustus jam 21:00 · Hapus
Amik Koofee
Amik Koofee
hi hi hi, aku baca berulang... dan setiap sampai di akhir yang " bulan puasa " itu, ketawa saja aku terus hi hi hi thanks ida dalam kisah sedih ini, masih sempat kau buat aku tertawa hi hi hi mungkin juga menangis
03 Agustus jam 21:04 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
hehehehhehe, kan kebanyakan emang begitu amik.....
03 Agustus jam 21:05 · Hapus
Ali Fanie
Ali Fanie
Tapi janji tinggal janji, apalah daya...
03 Agustus jam 21:31 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Akan kutulis pendapatku tentang puisi-puisimu... aku butuh waktu..setuju.....
03 Agustus jam 21:47 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
baca ini, aku seperti baca apa ya......sajak atau apa ya. ringan, pesannya utuh dan jelas. baca sekali langsung bisa nyantol. personifikasinya juga keren.... tetek emak kering kerontang serupa musim panas....cool !
03 Agustus jam 22:00 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@ali : thanx ya ali...miriplagu2 picisan aja ya janji tinggal janji
@mas Loektamadji : saya tunggu lho komentar2nya....saya jadi berdebar2 menunggu
@mb.anita : hehhehehe, saya cm menuli dengan intuisi sederhana yang saya punya
03 Agustus jam 22:08 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Iya Insya Allah....selamat malam Ida....
03 Agustus jam 22:14 · Hapus
Keroncong Sunyi
Keroncong Sunyi
Mestikah aku bertahan pada rintih anak lapar. Mestikah kubertahan pada rayu seorang caleg.
Thanks note nya mbak yg penuh ironi dalam hal yang paradoks
03 Agustus jam 23:51 · Hapus
Antok Serean
Antok Serean
jadi ingat lagunya iwan fals.
04 Agustus jam 0:25 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
hahaha, mantafff..apalg endingnya.yuhuuu, semogalah ada para caleg ( eh dah bkn caleg dunk ya) yg membaca sajak ida ini....sekedar ingatkan janji yg pernah mereka pekikkan kemaren2....sip ida!
04 Agustus jam 0:53 · Hapus
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
Ha... ha... ha...
puisi yang sangat unik... sangat mempengaruhi..
ha... ha.. ha.
04 Agustus jam 8:20 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
Ida,..jika kau tulis puisi macam begini terus. dengan topik yg berganti (juga up to date), sepertinya selalu jadi yg pertama kubaca di pojok koran. salut Ida, akan kecemerlanganmu baca situasi sosial bangsa kita.
04 Agustus jam 9:53 · Hapus
Cepi Sabre
Cepi Sabre
hahaha di endingnya. ternyata pemilu cuma buat dapat kresek ...
*kresek = plastik pembungkus
04 Agustus jam 10:25 · Hapus
Dhya Bella
Dhya Bella
Puisi satire yang ditulis dengan gaya unik.. alurnya cukup nikmat dibaca.. menarik!
04 Agustus jam 11:44 · Hapus
Bayu Soponyono
Bayu Soponyono
Good luck 4 U.
Bahasa simpel yg mudah dicerna di jaman yg serba instan.
Kritik sosial yg wooow. . .
Nonjok banget bro !
GBU
04 Agustus jam 11:50 · Hapus
Imam Setiaji Ronoatmojo
Imam Setiaji Ronoatmojo
@Ida :..kau telah ciptakan idiom unik .."tetek emak kering kerontang serupa musim panas"..coba aduk lagi idenya, hingga lbh bnyk imaji lagi lahir..itu komen-ku.. teruskan (bukan 'lanjutkan' ntar dikira idiom kampanye ya..)
04 Agustus jam 15:25 · Hapus
Kamis, 17 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar