Kamis, 17 September 2009

Uma' Serupa Izroil*

11 September 2009 jam 17:33


“Mak kan tau, saye baro’ nak dare?”*



Tak ada yang tau aku berjalan dalam angin yang basah dan berjubah kabut dari selatan. Tak ada yang tahu serpihan cahaya menjelma menyelimuti tubuh tipisku. Tak ada yang tau malam itu Izroil menyeretku setengah berlari, ia menaikkan kain di dadanya menuju tanggul dermaga. “Malam ini aku di jemput maut.” Namun bisikku dengan segera lenyap ditelan cacimaki.

Aku ingin tidur. Tidur yang sembari memeluk harap. Namun aku terjaga saat diriku telah berada di tungku nista. “Mak, kenapa kau membakar orok merah?” Inginku gertak begitu.

Lama aku tatap mata izroil, seperti daun beringin tua di bawah jembatan agen*. Aku menguning dan luruh. Izroil, mencekal jemariku, dan tak ada yang tau ketika malam itu. Aku terhuyung menuju kampong kuale*, mendaki bukit, menuruni lembah, mengendap di sudut-sudut jalanan kote Singkawang.

Nafasku tersengal, ketika Izroil menghelaku ke bibir dermaga. Di ujung malam, sampan kayu merapat senyap. “Kau harus pergi.” Bisik Izrail. Aku serapuh tepung kini. Angin basah membawa jasadku berlayar. Membelah teluk menuju laut terjauh. Kulihat serpihan cahaya berpendar searah dermaga. Samar aku dengar Uma’ menjerit




















Catt;
“Mak kan tau, saye baro’ nak dare?”* : bahasa melayu Singkawang/Sambas yang berarti : "Ibu kan tahu saya baru saja dara/gadis/baru mendapatkan haid pertama.

Izroil :adalah malaikat pencabut nyawa...

Jembatan agen adalah jembatan tua di Singkawang yang terletak di Jalan Merdeka, jembatan ini di buat oleh kolonial Belanda.

Kampung Kuale adalah kampung atau desa Nelayan. yang di ujung kampung terletak sebuah teluk yang bermuara di Laut lepas. Rencananya pelabuhan tua itu akan di buat pelabuhan besar tempat kapal dagang masuk, oleh pemerintah namun sekarang "Terlantar" karena terjadi KKN besar2an di sana.



Komentar Publish FB :


Prasetyo Samandiman, Frans. Nadeak, Imam Setiaji Ronoatmojo dan 14 lainnya menyukai ini.
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Ha... Ha... Ha...! Kita jadi koruptor juga, yuk. Eh, ga ding. Moga aja para koruptor itu cepat bertemu dengan Izroil. Berhubung tidak semua teman beragam Islam, alangkah baiknya Izroil itu juga diberi catatan kaki, Da.
***
Puisinya tragis menyentuh, Da. Malam nasib sang 'dare'.
11 September jam 17:39 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Hanna Fransisca : hahahahahah, jangan mb, ntar kawan2 yang lain mau ikutan jadi koruptor ntar kita ga kebagian jatah deh...hheheh iya mb, kan ku kasi juga...aku lupa tadi...
hik...puisi ini jadikan berkat semangat dan dorongan mb Hanna ku tersayang...ceceku yang berhati putih, kalau ku bilang dari emas ntar orang nyatronin rumah mb lagi nyari2 emasnya...wkwkwkwwk...makasih ceceku...
11 September jam 17:42 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Sama-sama kasihnya diterima dan dirawat. Kalau boleh kupinta, jangan menyanjungku terlalu tinggi. Takut jatuh. Bukk! Patah kaki tangan ndak jadi maseleh. Takutnye, aku tok lupe diri... hihi...
11 September jam 17:46 · Hapus
Farhan Satria
Farhan Satria
Puisi ini mungkin dititipkan ke KPK aja ya, biar jadi ucapan selamat datang bagi para tikus negara..
11 September jam 17:47 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
wah, aku rasa tak berlebihan...aku bisa berdiri dengan kaki tak rapuh dalam menulis itu salah satunya berkat prang2 tersayang ya salah satunya ceceku ini.mb hanna ...ehem kalau jatuh mb pilih dari pohon ap?????jangan pohon kedongdong mb...dari pohon seri aje...
wkwkwkww
11 September jam 17:48 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Farhan Satria : hehehehe, bung Farhan bise aje.....hiks...semoga Pemerintah bisa membaca tulisanku ini...hiks...tapi ne bukan hanya sekedar menceritakan koruptor tapi lebih dari itu...
11 September jam 17:50 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
sttt. aku jadi sedih ingat kedondong mungil yang habis kita cicipi terus mati. pot-pot yang pecah. sttt. rahasia kita. wkwkkwkw
11 September jam 17:52 · Hapus
Aries Yulianto
Aries Yulianto
Cantik sungguh puteri Singkawang
sebagai selampai yang melambai
11 September jam 17:58 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Da, komengku di atas, malang maksudnya. Terketik malam lagi. Mentang-mentang malam ini akan bertemu... ehm... ehm...
11 September jam 18:00 · Hapus
Penerbit Kakilangit Kencana
Penerbit Kakilangit Kencana
Menarik, indah...
11 September jam 18:05 · Hapus
Zulfaisal Putera
Zulfaisal Putera
Puisimu kali ini bercerita banyak tentang hakikat hidup dan hubungan antarmanusia. Keterlibatan tokoh-tokoh lain dengan peran dan lakonnya masing-masing makin membuat kekuatan puisi bertambah. Perilaku aku lirik dengan 'izrail' dan pelibatan 'uma' dalam akhir puisi menjadi kunci bahwa imajinasi dan cinta telah mampu meluluhlantakkan logika kemanusiaan. Bahwa kematian itu begitu sulit diterima adalah simpulan indah puisi ini.

Ida,
Lanjutkan!
11 September jam 18:11 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
saya tak ragu lagi, penyair ida ini akan menjadi penyair besar. bersama penyair hanna juga. semoga instingku kelak terbukti benar. amin ya rab.

ih hihi
11 September jam 19:59 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
***Daku aminkan doa Bang HH. Amin. Terima kasih banyak, Bang.
11 September jam 20:03 · Hapus
Arif Gumantia
Arif Gumantia
ternyata singkawang bener-2 banyak penyair-penyair hebat.
puisi di atas..sungguh membawaku ke dalam makna imajinatif, religius, dan juga misterius.
tak mudah untuk membuat sebuah gagasan dalam puisi dengan kiasan, idiom dan juga metapora seperti di atas.
11 September jam 20:14 · Hapus
Cepi Sabre
Cepi Sabre
ih, ida yang dare singkawang, bagusnya.
11 September jam 21:16 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Hanna Fransisca : hiks...tentu saja ceceku, akan aku jaga rahasia kita, kecuali kepada angin yang berdesir...wkwkwkwk aku makin puitis ga mb????

Aries Yulianto : terima kasih mas aries....hehehhe
Penerbit Kakilangit Kencana: terima kasih sudah mau berkunjung ke note saya yang sederhana ini
... Baca Selengkapnya
Zulfaisal Putera : iya bang Zul, saya sangat berterima kasih bag zul mau membaca note saya yang masih harus banyak belajar ini bang.

Jurnal Sastratuhan Hudan : terima kasih bung hudan yang juga sangat baik, mau berkomentar di note saya yang sederhana dan mau meluangkan waktu "membacanya"......

Hanna Fransisca : setuju mb...kita aminkan saja, dan semoga aku tidak rusak karena pujian...

Arif Gumantia : terima kasih mas arif, sudah mau bertandang ke sini, namun saya tunggu majalahnya kok kagak nyampe2 juga ya????

Cepi Sabre : heheheh, mas cepi, bisa aje....saye memang nak dare singkawang asli mas...
11 September jam 21:26 · Hapus
Anggun Veranantika
Anggun Veranantika
wah, kau pandai sekali memainkan katakata dalam ranah etnografis, religi, misteri dalam satu tulisan...

aku suka dgn tulisanmu ini, mbak...!
11 September jam 21:55 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih anggun...
hehehee....makasih karena sudah sudi bertandang ke noteku...
11 September jam 21:59 · Hapus
Aming Kieva
Aming Kieva
kombinasi yang apik, tambah komplit dengan bahasa dan simbol2 tradisi yang kental asli singkawang. salut
11 September jam 22:07 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih mas aming....
maksih juga karena telah bertandang di note saya yang sederhana ini...
saya hanya ingin mengenalkan kota Singkawang kepada kawan-kawan
11 September jam 22:27 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
unik ya Ida... Biak Singkawang ya ida? He.he... Makasih ya udh berbagi karya penuh makna ini... ^_^
11 September jam 22:28 · Hapus
Imron Tohari
Imron Tohari
aku sependapat dengan mentorku Sastrawan Hudan Hidayat, dengan catatan Ida Nursanti tidak mudah patah arang mendapat kritik sepedas apapun, dan tidak lena dengan pujian semanis anggur. he he.

salam lifespirit!
11 September jam 22:38 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Topan Asri : terima kasih mas te-o-pe...sudah mau membaca note saya yang sederhana...aok be biak Singkawang saye

Imron Tohari : terima kasih mas Imron, mudah2an saya memang akan bisa menjadi besar tanpa tersandung kritikan dan terlambung dan mabuk dengan racun pujian
11 September jam 22:45 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih mb weni, ah mb bisa aja.....saya jadi malu...isin...
11 September jam 23:08 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
imajinasimu luar biasa da. kau ajak izroil 'bercanda' dgn cara berlari lari menuju dermaga. kematian seolah kau wujudkan serupa permainan petak umpet, yang siapa cepat dia dapat kematiannya!
dan kau pilih, kematian bunuh diri itu di tepi dermaga.
11 September jam 23:10 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
sangat menggetarkan. merinding bacanya. kamu memang dahsyat ida. ini aq save ya. so great !
12 September jam 8:59 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Anita Rachmad : hehehehhe....mb Anita...yang keren...kita main petak umpet yuk...namun siapa cepat ia yang mengunjungi...hehehe mau dunk ke malang....

Sayuri Yosiana : yuri sahabatku...ah, kau terlalu memuji kawan...nanti saya mabuk siapa yang mau nanggung???
wkwkwwk
12 September jam 13:37 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
ada warna lain di puisimu. dan lagilagi aku salut dengan rasa berbudayamu yg kuat, juga rasa cinta akan tempat dimana kau dilahirkan. kau munculkan hampir disetiap karyamu.
12 September jam 13:52 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
wah, ada mb Sandra...mb..makasih ya udah mau mengunjungi note ku yang sederhana ini...warna lain apakah itu mb???kalau aku boleh tau...aku memang cinta sekali dengan tanah kelahiranku....
12 September jam 14:03 · Hapus
Purwono Nugroho Adhi
Purwono Nugroho Adhi
tutur yang kelam nan berakater,
narasi heterotopia yang menawan,
ada dialog ruang dengan raga,
ada pemaknaan antara peristiwa dengan tempat,
triller yang menghentak, misterius, gelap... Baca Selengkapnya
satu persatu diurai dalam ruangnya,
pada satu cerita dituturkan
12 September jam 14:38 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih mas adhi, wah, saya dapat ilmu baru setiap mas adhi mengunjungi note saya......
12 September jam 16:13 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Hadduh,maaf daku telat berkunjung ke notemu say.. tulisan-tulisan dinda makin hari makin bernyawa,pandai nian dinda. Semoga niatmu memperkenalkan kota kelahiranmu melalui tulisan-tulisanmu kelak terlaksana bukan hanya di ruang ini,Insya Allah lebih dari ini say.Dindaku punya talenta itu. makasih udah berbagi ya say...salam.
12 September jam 19:56 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih juga sudah mau bertandang ke note saya mb firaku yang manis....ah terlalu banyak pujian di sini...kritikanlah sekali-kali...
life spirit mb ku yang cantik
12 September jam 20:41 · Hapus
Imam Setiaji Ronoatmojo
Imam Setiaji Ronoatmojo
@Ida..tulisannya semakin tajam neh, dan bentuknya antara prosa-puisi atau kusebut saja meta-puisi..bila dilihat begitu klu dieksplor malah jadi cerpen yang surrealis..wah, bisa seperti menukik-meliuk kayak lukisan salvador dali..teruslah berkarya Ida..
13 September jam 6:13 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih pak imam...support darim kawan-kawan akan sangat berarti buat saya....life spirit buat pak imam...
13 September jam 21:20 · Hapus
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
Liris...
saya mulai kagum dengang Singkawang..
:-)
Sen pukul 9:52 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
Ida,..warna yg berbeda dr puisi2mu sebelumnya. butuh kecerdasan khusus membuat puisi seperti yg kau tuturkan ini. sisanya,...sudah ada dalam komentar purwono nugroho adhi..hehehe.
Sel pukul 8:43 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Terima kasih mb Sandra...akhirnya aku tau warna-warni itu....
Sel pukul 22:53 · Hapus
Arta Nauli
Arta Nauli
apa yang hendak kukatakan? bukit-bukit yang mengelilingi kotamu itu selalu ingin kutatap, moga terwujud. hehe...
Sel pukul 22:59 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Insya Allah amin...Arta...ah...tak harus kata terucap kawan...
Sel pukul 23:02 · Hapus
Bejo Halumajaro
Bejo Halumajaro
makasih... mantab, semua memuji. tp kayaknya dalam Chatt blum ada arti: Uma'... sebenere cerita ttg aborsi ato korupsi?
Sel pukul 23:04 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
heheheh........
Uma' itu artinya Ibu dalam bahasa Indonesia
iya saya lupa makasih ya kawan....
sebenernya berceritera tentang kisah pilu seorang perempuan muda yang dipaksa ibunya menjual tubuhnya untuk negeri asing, namun ia memilih mati muda daripada berpisah dengan kota kelahirannya. Ia menganggap ibunyalah yang bertanggung jawab atas kematiannya.
namun sebenernya artinya luas kawan...terserah pembaca mengartikan lagi sajak ini.
Sel pukul 23:08 · Hapus
Prasetyo Samandiman
Prasetyo Samandiman
Singkawang... menantang telinga.

2 jempol buatmu

go girl..!
Kemarin jam 3:01 · Hapus
Acep Zamzam Noor
Acep Zamzam Noor
Asyik, asyik, asyik sekali mbak ida, semakin pengen ke singkawang....
Kemarin jam 13:03 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Acep Zamzam Noor : makasih mas Acep yang baik...sudah sudi bertandang ke note saya yang sederhana ini...
semoga sampai ke Singkawang....
6 jam yang lalu · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Prasetyo Samandiman : makasih mas Prasetyo...
terima kasih...buat dua jempolnya itu lho
heheheh
6 jam yang lalu · Hapus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar