Kamis, 17 September 2009

"Suatu pagi, aku melihat ibu mati"

20 Agustus 2009 jam 15:59


Langit hitam
burung-burung gugup berlari
seekor naga tajam menukik
pucuk-pucuk sayapnya memercik bara
panas bertebaran
topan menari ganas
ketakutan menyemprot ke langit
aku melihat prajurit-prajurit tua bergelimangan darah sambil memeluk pedang
jerit kehidupan mulai hilang perlahan
ibu, aku melihatnya
naga itu marah ibu, luar biasa murka

Rumah-rumah gubuk, pohon-pohon jati, bukit-bukit gundul
remuk dilibas
rata jadi tanah
semua ibu
kecuali aku
ku pegang pedang itu dengan erat ibu
akan aku bunuh naga itu untuk ibu
dia pasti aku hancurkan
tapi kenapa ibu diam?
kenapa ibu malah berbalik pergi?
aku akan membela ibu,
aku akan berusaha agar ibu tidak terluka
tiba-tiba aku rebah
mataku terpejam

Aku melayang kini
mungkinkah aku tertidur?
malam ini tak biasanya aku tidur bermimpi.

Gelap
terbangun aku di kesunyian
aneh
untuk subuh yang biasanya riuh
tak ada bedug adzan
tak ada kokok ayam tetangga
tak ada teriakan penjual sayur
tak ada ketok penjual susu

Ranjang ibu kosong, juga dingin
ibu ke mana?
aku tiba-tiba panik
aku harus cari ibu
ibu, kemana ibu
rasa dingin tiba-tiba merayapi punggung kecilku

Aku memburu menuju dapur tua milik kami
dan benar
aku mendapati ibu di sana
bukan mencuci piring
bukan mengiris bawang
bukan pula membuat teh
ibu kaku
wajah ibu putih
sangat putih untuk pagi yang biru
dadanya menganga luka
membualkan darah merah
kental
bau anyir menguar keseluruh dapur tua kami


aku mendekat
di sana
di balik pintu
aku lihat
ayah tersenyum puas
memegang sebilah belati berkilatan
duniaku seketika hitam, ibu





Singkawang, 21 juni 2009







Komentar Publish Fb :


'Nandez Capricornidas', Fira Rachmat, Sayuri Yosiana dan 9 lainnya menyukai ini.
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
Wuih..
puisi yang penuh makna...

Catt. mengurangi imajinasi..
Sedih...
20 Agustus jam 16:05 · Hapus
Arif Gumantia
Arif Gumantia
aku baca cerpennya arvianti itu ida...makanya aku baca sejak bait awal kok ada kemiripan sebuah gagasan pokoknya...
yang jelas aku suka diksi metaforanya...
salam dari madiun
20 Agustus jam 16:06 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
aku suka sensitifitasmu memahami coret hitam salah satu potret kehidupan sekitar kita ini ida. dalam suatu rumah tangga,...har seperti ini makin rentan terjadi kala kini. dan penggambaranmu pada kemurkaan itu,..luar biasa.
20 Agustus jam 16:06 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
iya ida cantik. seperti kata mas frans, tulisan catt di bawah puisi jgn ditulis. jelaskan saja di kotak kotak komentar ini. ttg inspirasimu. ok dear.....

muaaaaaah...
20 Agustus jam 16:11 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Catt ;
terinspirasi sebuah koran harian ibu kota
yang menulis tentang seorang ibu di bunuh suaminya gara-gara menolak di jadikan pelacur
ia di bunuh di depan anak kandung mereka. juga dari cerpennya arvianti armand....yang berjudul "Pada suatu hari ada ibu dan Rahadian"
... Baca Selengkapnya
@bung frans....neh sudah sy jalankan keinginan bung frans dan mb anita...heheheheh, makasih.....banget

@bung arif...iya bung arif..saya sangat2 terkesan dengan cerpen itu, di tambah lagi dengan membaca berita yang memilukan hati saya

@Mb sandra: iya mb...saya sangat berterima kasih mbmau meluangkan waktu membaca note sy ini, hehehehhe,

@Mb anita : ini semua juga berkat dorongan mb yang selalu meminta saya menulis puisi....muachhh tooo buat mb yu yang cantik
20 Agustus jam 16:26 · Hapus
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
@ Ida Nursanti & Anita
Tepat... catatan berada di komentar...
semakin indah puisinya...
:-)
20 Agustus jam 16:31 · Hapus
Antok Serean
Antok Serean
cukup mencekam.
20 Agustus jam 16:31 · Hapus
Faradina Izdhihary
Faradina Izdhihary
Bener, puisimu ini cantik banget.aku suka. muatan isinya dalem banget
20 Agustus jam 16:34 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
thanx bung frans...
antok, cuma segitu komentarnya????
kritikan kek...apa aja, saya pasti akan sangat berterima kasih
20 Agustus jam 16:34 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih mb faradina, saya merasa tersanjung...namun kalau bisa ada kritikan biar saya bisa belajar dari kesalahan....
20 Agustus jam 16:44 · Hapus
Trisna Bs
Trisna Bs
menyentuh... membuat hati sedih pilu....
pantaslah kita bersyukur atas rahmat kehidupan yang kita alami saat ini, disekilingi orang2 yang penuh kasih dan sayang....
20 Agustus jam 16:44 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih buat jempol mungilnya mas cepi, bung bayu, shushan, mas arif, mb sandra juga bung frans...
20 Agustus jam 16:45 · Hapus
Jeppe Indrawisudha
Jeppe Indrawisudha
Ida, ini mengingatkanku pada puisiku Seorang Lelaki Mati di Kedai Kopi yang belum kunjung selesai setelah dianggit sejak dua bulan lalu. Keliaran imajinasi memang perlu keberanian bahkan pada persoalan mati seperti ini.
20 Agustus jam 16:45 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
puisi ini mengingatkanku pada cerpen teguh - seorang anak yang membunuh bapaknya, dan sang bapak yang telah membunuh ibunya. tentu saja puisi ini adalah puisi yang bagus. perpindahan dari imaji yang dijadikan intro puisi, untuk suatu pelepasan tidur/tak kuat, tak berdaya dari kenyataan yang ada. atau mimpi? tapi ia berjuang dengan pedangnya. ibu ... Baca Selengkapnyayang membalik seakan dalam dunia yang sureal: seorang yang tak berkata meninggalkan kita di tengah malam buta.

ayah yang menyeringai seakan gila. dan dapur? bumbu tempat hidup di masak itu. dan naga, yang mungkin sang ayah atau sang ayah dari ayah luasnya dunia. puisi masuk ke dalam dunia mimpi dan tak perlulah lagi kita menegakkan kejelasan logika puisi dalam arti, semua itu bisaa terjadjadi dalam suatu kehendak penyair, yang meniatkan puisinya bergerak dari seolah jaga seolah mimpi.

menarik melihat ibu yang diam, dan ayah yang menyeringai. dua tokoh inilah yang menyembunyikan ledakan lubang tempat puisi sembunyi di dalamnya.
20 Agustus jam 16:52 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Jeppe Indrawisudha : hehehehhe, aku tunggu puisi itu bung jeppe....bener....

Jurnal Sastratuhan Hudan : saya yang bodoh ini meminta maaf jika ada khilaf dan lupa yang membuat bung hudan merasa tersinggung, ya Allah maafkanlah saya, amin... saya sedang mencerna komentar bung hudan, dan saya pelajari dengan cermat...ga puasa ya bung hudan..mari puasa bersama kami, melunturkan segala kotor dalam diri...terimakasih bung hudan....saya belajar banyak di FB ini...
20 Agustus jam 17:12 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Puisi apik Ida. Inboxmu sudah daku baca. Kita bahas nanti ya, sayang. Setelah daku di Singkawang. hihihi..
20 Agustus jam 17:16 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
thanx, buat mb hanna....di tunggu komentarnya neh...juga buat bung cepi, hehehehhe ga cm jempol aja ya bung cepi...coz jempol banyak maknanya
iya trisna...kita harus sangat2 bersyukur kita dilimpahi rahmat yang tak berbataas itu
20 Agustus jam 17:17 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
menunggunya aja berdebar-debar mb, aku selalu menunggu-nunggu komentar dari ceceku ini...hiks...
20 Agustus jam 17:45 · Hapus
Kwek Li Na
Kwek Li Na
salut sama karyamu ini Ida.

bercerita dalam puisi. kesedihan seorang anak, ketakberdayaan seorang perempuan.

Oh...Dunia...aku ingin meminta sepotong adil padamu, hingga hal2 begini tak pernah terjadi lagi :)
20 Agustus jam 18:01 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih cece lina....
sebagai perempuan memang kadang kita tidak mendapatkan keadilan di dunia. namun kelak di akhirat pasti kita kan mendpatkan keadilan dan kebahagiaan.
20 Agustus jam 18:18 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
duh Ida, puisimu sangat menggetarkan perasaanku. betapa banyak kekerasan di sekitar kita saat ini. dan endingnya, hiks..spechless Da daku. kamu memang dahsyat. makasih ya, teman.
20 Agustus jam 20:58 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
belum sempat baca semua... bisnya panjang... Hiks... Hiks... ntar d baca dulu ya IDA... baru bisa lanjut coment... :-)
20 Agustus jam 21:45 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih yuri...
aku hanya ingin protes atas kekerasan dan pelecehan yang terjadi pada perempuan.....
topan mah...janji mau komen tapi ga ada
wkwkwkwkwk
20 Agustus jam 23:00 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Wow...adindaku ini ternyata piawai berpuisi...puisimu bagus dinda...sungguh mba sampai menganga nih takjub. Awal yang mengembara dalam impi berakhir mencekam. Kisah ibu yang mengharu biru...sarat makna, makasih udah berbagi puisimu yang indah ini dinda. salam.
21 Agustus jam 0:08 · Hapus
Arta Nauli
Arta Nauli
nak berkate ape? elok....
21 Agustus jam 1:39 · Hapus
Purwono Nugroho Adhi
Purwono Nugroho Adhi
tutur dramatiknya terasa,
prolog mengurai memperpanjang makna pada rajutannya,
hingga diakhiri dengan tragis, perpindahan surelis ke realis,
puitika gelap dengan epilog yang lugas dan pas,
... Baca Selengkapnya
jika ini film, linier dengan ciri sutradara Sam Mendes
21 Agustus jam 9:32 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
thanx to :
mb fira :ah mb ku satu ne bisaaaaaa aja, adinda jadi malu ....
@Arta Nauli : heheheh, dah bise ke cakap bahase kamek??? bahasemelayu??? ah bung arta ini, saya kan banyak belajar dari bung arta, saye cume pemule di dunia satra ne, jadi masih, terase sangat banyak kekurangannnye....
@Purwono Nugroho Adhi : mas adhi, selamat puasa ya....saya fikir pujian dan sanjungan yang ada terlalu berlebihan,,,saya masih harus belajar banyak dengan mas adhi dan kawan-kawan yang lain...
21 Agustus jam 14:40 · Hapus
Eka Ganti Nama Lagi
Eka Ganti Nama Lagi
Sesuatu yang terampas dari ....
Mencoba berteriak agar ....
Habis sudah air mata untuk ....
ibu,
Pagi itu,... Baca Selengkapnya
iya kah..?
ada yang terambil...
mengapa tak renggut kembali..
ibu... HAJAR SAJA!!!
agar tak lagi hitam!!!
haha..
21 Agustus jam 16:30 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih eka ganti nama lagi......apresiasi yang menghibur saya sebagai seorang pemula
22 Agustus jam 15:37 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
uik... uik... puisi ini jadi gx bagus karena ada kata-kata "topan menari ganas"... he.he.he... tp bukan topan asri kan ida????
22 Agustus jam 22:38 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih mas top...
hehehehhe
mas top ada2 aja...
thanks...udah mau mampir di note dan kasi komentar
22 Agustus jam 22:44 · Hapus
Rama Prabu
Rama Prabu
ow...perih...letih...!
31 Agustus jam 10:09 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih mas rama...sudah mau berkunjung di note saya yang masih banyak kekurangannya ini....
31 Agustus jam 16:06 · Hapus

Di halaman Masjid TUa

26 Agustus 2009 jam 23:03


Halaman Masjid Tua
awal musim hujan
tangkai-tangkai mawar basah tertiup angin
menutupi pagar besi bercat lumut
Kembang sepatu mekar di sekeliling air mancur
Gerimis pagi itu, menggenangi halaman
Mungkinkah aku abaikan rindu, Ibu
Rindu yang datang bersama angin musim paling dingin
Aku rindu pada bunyi bedug, Ibu
rindu suara muadzin yang menggema
rindu riuh tapak-tapak kaki di halaman .
Malam datang membingkai getar cinta
mencetak mimpi syurga pada rembulan pucat yang hadir setelah hujan
Aku sedang di perjalanan menuju rumah-Nya
tidak melamun di bangku stasiun tua yang sunyi
aku berdiri di tengah musim ayat-ayat cinta berdengung
Tujuh Likur aku datang mengunjungi-Nya



Komentar Publish FB :


Hs Mbelink, 'Nandez Capricornidas', Yayan R. Triyansyah dan 10 lainnya menyukai ini.
Kuni Ahmed
Kuni Ahmed
mantep nih singkawang....puisinya-apalagi.....lagi dunk mbak......
26 Agustus jam 23:07 · Hapus
Cepi Sabre
Cepi Sabre
dari catatan perjalanan ke puisi. hehehe ... asik .. asik.

saya suka 'tujuh likur' itu. apa artinya 27 atau ada istilah yang islami ?
26 Agustus jam 23:07 · Hapus
Kuni Ahmed
Kuni Ahmed
Likuran-kalo dibanten tu seminggu terakhir puasa....
26 Agustus jam 23:10 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
mantap... makasih sudhi berbaghi... :-)
26 Agustus jam 23:13 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
yup....mas cepi....yang di bilang kuni ahmed itu benar...sama kok istilahnya...
makasih telah mau berkunjung di note saya....
26 Agustus jam 23:13 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
yup mas tophan...makashi jugha telah mengunjungi note shaya
26 Agustus jam 23:14 · Hapus
Keroncong Sunyi
Keroncong Sunyi
Kurasakan dunia lain dari makna puisi itu. Dunia yg transendal yang ingin diwujudkan akulirik di garis hidupnya
makasih puisinya
26 Agustus jam 23:25 · Hapus
Eka Ganti Nama Lagi
Eka Ganti Nama Lagi
mengapa sebatas halaman?
Persilahkan aku ke dalam.
:)
26 Agustus jam 23:26 · Hapus
Arif Gumantia
Arif Gumantia
catatan perjalanan juga bisa indah dalam bentuk puisi..ayo bikin lagi keindahan lainnya di singkawang.
26 Agustus jam 23:31 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Keroncong Sunyi : hehehehhe, makasih ya fitrah....telah mengunjungi note ku.....

Eka Ganti Nama Lagi : yah, aku persilakan engkau masuk eka...heheheheh sesama muslim pasti akan saling berbagi
26 Agustus jam 23:32 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
apik da. tak bisa komen banyak banyak utk karya yg bagus. angle foto masjid itu dari samping ya ? lebih keren kalo dari depan da. akan keliatan ciri khas-nya secara utuh.
26 Agustus jam 23:33 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
heheheheh, makasih mas arif....namun ini bukan catatan perjalanan....
mb anita, ne dari depan...tapi gambar ne ga seutuhnya karena masjid ini di foto sebelum di renovasi....melebar ke samping...karena keterbatasan tempat.....
26 Agustus jam 23:35 · Hapus
Arif Gumantia
Arif Gumantia
iya...bener..cuma menurutku saat kita ada disebuah tempat yang menginspirasi kita untuk menulis puisi dengan asosiasi ke sebuah hal lainnya..sedangkan tempat tersebut ada dalam lirik..kalaulah dikembangkan akan terasa indah..
karena penikmat puisi tanpa ada gambarnya pun tetap bisa merasakan suasananya. dan jika itu di buat sebuah rangkaian perjalanan dari tempat yang satu ke tempat lainnya..bener-2 indah. sebuah catatan perjalanan yang puitis dan bukan sebuah jurnalisme.
26 Agustus jam 23:48 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
wah...makasih mas arif....saya sangat terkesan mas arif mau membaca dan berkunjung ke note saya...alhamdulillah....
26 Agustus jam 23:50 · Hapus
Muhammad Hasan Basuni
Muhammad Hasan Basuni
awas roboh masjidnya karna udah lapuk temboknya
27 Agustus jam 1:57 · Hapus
Amik Koofee
Amik Koofee
asyik puisinya ida,membuat bergambaran saja di ingatan suasana yang memang penuh dengan renungan itu. thanks ya
27 Agustus jam 3:01 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Keren, ah. I luv it... Muaaah.
27 Agustus jam 5:31 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
aq selalu haru bila membaca puisimu spt membaca bagian dari diriku. ada sentuhan tersendiri bagiku disana.
Ida, aq setuju dengan mas Arif. dlm catatan perjalanan ala jurnalis aja kamu asyik banget loh, apalagi dlm bentuk puisi yg puitik hehe.
27 Agustus jam 6:08 · Hapus
Shu Shan Wang
Shu Shan Wang
Jmpol bt lu..
Tulisn u mank slalu indah n mngugah hati..terus berkarya y..
27 Agustus jam 6:55 · Hapus
Shu Shan Wang
Shu Shan Wang
Jmpol buat lu..
Tulisn u mank slalu indah n mngugah hati..terus brkarya y..
27 Agustus jam 6:55 · Hapus
Shaut Ls Hutabarat
Shaut Ls Hutabarat
Wow! dendang puitisasimu sangat kunikmati di masa bulan suci Ramadhan ini. "Tujuh Likur aku datang mengunjungi-MU"
27 Agustus jam 9:52 · Hapus
Pay Jarot Sujarwo
Pay Jarot Sujarwo
puisinya keren. tapi seandainya bisa lebih fokus, karena ibu dan Mu bukan satu. mungkin kalau -Mu, diganti dengan -Nya, bisa lebih berbunyi. sebab "ibu" tidak kehilangan makna. keren kawan. i like your poem
27 Agustus jam 14:50 · Hapus
Kwek Li Na
Kwek Li Na
keren. religinya kuat. senang membacanya.
27 Agustus jam 23:00 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Aihh aihhh indahnya puisimu dinda...puisi religi menggema dibulan suci ini...bagus banget dindaku makasih udah berbagi denganku yah...salam
27 Agustus jam 23:56 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Pay Jarot Sujarwo : makasih banyak sahabatku...hiks...aku kadang memang tidak sabaran...thanx...hihihi...

Shaut Ls Hutabarat : makasih my bro...duh...tak sabar menunggu-Nya mengunjungiku...

Kwek Li Na : makasih cece Li Na yang baik...aku terharu cece mau berkunjung di note ku...... Baca Selengkapnya

Maghfira Mimi : kakakku fira...ga mau ah pujian melulu...sebagai adik aku meminta sentilan..bukan sanjungan...tapi makasih ya kakak....

Shu Shan : wah...my best friend...aku juga nunggu tulisanmu...
28 Agustus jam 12:54 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Sayuri Yosiana : yuri, sentillah aku kalau memang dalam tulisanku ada yang salah...aku mohon sahabat...

Hanna Fransisca : mb...marahilah aku lagi...kalau memang tulisanku buruk...ya????pleasss....

Amik Koofee : amik..berkata yang jujur ya jika puisiku buruk...
28 Agustus jam 12:56 · Hapus
Yayan R. Triyansyah
Yayan R. Triyansyah
duh, baru sempat baca nih, maaf ya ida....

sajak ini mengalir dengan riuhnya,diksinya saling berkorelasi membangun makna...
30 Agustus jam 4:46 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih yayan....
apapun itu bentuk apresiasimu terhadap karyaku,namun makasiiiihhhh banget mau melongok isi note ku
30 Agustus jam 16:08 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Saya menghitung banyak penggunaan kata di ...di di awal, di sekeliling, di halaman, di perjalanan, di bangku, di tengah, dan juga kata itu ... rindu itu, bedug itum cinta itu .. mungkin menjadi seperti sayur kebanyakan garam atau gula... coba bedakan kalimat “di awal musim hujan” dan “awal musim hujan” atau kalimat “Aku rindu pada bunyi bedug itu, Ibu” dan “Aku rindu bunyi bedug, Ibu”.......
30 Agustus jam 17:05 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih ayah....semua hanya bisa memuji, namun tak ada yang memberikan kritikan yang aku inginkan...makasih ayah...
30 Agustus jam 17:19 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Mereka baik juga Suni....
30 Agustus jam 17:21 · Hapus
Muhammad Hasan Basuni
Muhammad Hasan Basuni
Puisi itu bukan karya ilmiah mengapa harus diedit atau direfisi. Puisi adlh ekspresi jiwa. Ia seperti air mengalir menganaksungai dan membasahi atau bah, seperti angin berhebus sepoy atau topan, seperti api membakar atau menghangatkan.....maaf ya terserahlah.....
04 September jam 1:39 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Muhammad Hasan Basuni :mengapa mesti meminta maaf?????
Loektamadji A Poerwaka : iya ayah...^ _ ^
04 September jam 22:37 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
puisi begitu indah. bergetar dari hati penyairnya. dari suatu masa yang ia akrabi. panggilan itu terasa dalam. saya terlena dengan bait ini:

"Aku berjalan menuju rumah-Nya
tidak melamun
di bangku ... Baca Selengkapnya
stasiun tua yang sunyi"

"Malam datang membingkai getar cinta
mencetak mimpi syurga pada rembulan pucat yang hadir setelah hujan" - tapi bait ini kukira masih bisa dipakaikan baju puisi.

sory ya ida yang keras hati hihi itu pengelihtanku aja. bisa benar bisa salah tapi mungkin benar hehe
08 September jam 20:01 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
iya, terima kasih tuan hudan yang juga sangat baik...saya merasa saya emmang masih harus banyak belajar....salah satunya dari tuan hudan dan semua kawan-kawan di FB ini...
saya akan perhatikan saran dari bung hudan....
08 September jam 21:14 · Hapus
Muhammad Hasan Basuni
Muhammad Hasan Basuni
kenapa masjdinya ko" direnovasi?. kalau sudah direnovasi berarti masjidnya tidak jadi tua lagi dong...berarti tema puisinya harus diganti dengan masjid kenangan itu. sorry ikut campur...
09 September jam 0:28 · Hapus

Sebuah drama dari negeriku

09 September 2009 jam 22:39

Ratna, sangat mencintai negerinya. Hingga dia rela menjual tubuhnya pada Negeri asing. Negeri yang kata orang bisa merubah nasib. Hingga ia nekat pergi meninggalkan anak dan suami, dan Negeri yang ingin ia sumbangi sedikit rejeki. Hingga bisa diakui sebagai anak Negeri.

Suminten begitu mencintai Negerinya. Sungguh, tak ragu, walaupun ia Cuma seorang pelacur. Dia juga tahu kalau korupsi masih saja ada. Walau KPK sudah ada. Dia mendengarnya dari laki-laki berdasi yang suka mengajaknya mesum di losmen murahan.

Larasati begitu namanya. Ia cinta akan tanah airnya. Walau ia Cuma seorang artis viguran yang hanya di bayar seratus ribuan, namun di ranjang lumayanlah dibayar jutaan. Dia juga tau kalau Negara kita tetap saja bergantung pada hutang. Kalau ditanya darimana ia tahu, ah dia hanya mengibas bahu.

Tak usah bertanya pada Marsinah betapa cintanya ia pada Negaranya. Tak tergiur Dollar, Ringgit ataupun Dinar. Ia tetap setia di tanah tumpah darah warisan orang tua. Kumpul bersama sanak keluarga. Makan tak makan asal kumpul. Walau terpaksa merelakan tubuh dijamah habis-habisan oleh bandot tua majikan tempat ia mencari sesuap makan.

Kau tahu, aku juga cinta. Sangat cinta. Pada Negeriku ini. Pada bangsaku ini.

Tempat rakyatnya dikirim keberbagai Negara. Diberi gelar “pahlawan Devisa.” Yang untung kalau pulang selamat, tubuh utuh, tak jadi mayat.

Tempat rakyat perempuan memamerkan paha dan membuka dada. Menjual tubuh demi selembar lima puluhan. Dicacimaki pelacur murahan oleh politisi berjas yang puas menggerayangi semalaman.

Tempat rakyat perempuan tertindas. Tak peduli TKW, Pelacur, dan artis viguran. Hingga Buruh di Negeri sendiri.

Aku serupa penonton di bioskop yang memutar film-film penganiayaan. Aku sedih, aku menangis, aku tertawa. Hanya itu. Aku hanya bisa tersedu sambil menikmati gambar-gambar di televisi. Melihat banyak perempuan yang dianiaya entah drama di televisi atau catatan harian buruh migran yang terlanjur mati.








Dari tempat ku bernaung : Singkawang, 16 agustus 2009


Komentar Publish FB :


Shu Shan Wang, 'Nandez Capricornidas', Trisna Bs dan 15 lainnya menyukai ini.
Anggun Veranantika
Anggun Veranantika
mantab, mbak...wah, nampaknya kata2mu yang tadi menghilang (;anggap tercecer) sudah dapat kau kumpulkan lagi ya....??? siiippp...
09 September jam 22:44 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Anggun Veranantika : wah berlebihan kawan.....hiks...bukan yang ne...ini bukan puisi hanya sekedar catatan ringan....hiks...kritik buat negeri yang sangat kucintai juga kritik buat kita2 pemuda Indonesia...
makasih kawan...mau menjadi pembaca pertama dan apresiasinya sangat berharga,......
makasih...o iya panggil aja ida...
thanx...
09 September jam 22:48 · Hapus
Anggun Veranantika
Anggun Veranantika
siapa yang berlebihan...??? apa yang aku tulis ya apa yang aku rasakan setelah membaca katakatamu. hehehe.

ok, ida salam kenal....
09 September jam 22:50 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih anggun....hiks...
salam kenal...jadi besar kepalaku neh
anggun...
09 September jam 22:52 · Hapus
Kwek Li Na
Kwek Li Na
Ida...ini puisi yang tersedih pernah kubaca di FB ini.

aku meniti air mata.

Hidup pilihan. namun apakah kami punya pilihan.... Baca Selengkapnya

thanks Ida agak tenang cc balik koment lagi :)
09 September jam 22:54 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
ceceku yang lembut dan manis...
aku cuma menuliskan apa yang aku lihat, aku juga sedih cece tak dapat berbuat apa-apa...hanya bisa melihat...namun aku bertekat, akan kutulis cerita dan derita itu,,,,agar semua orang bisa merasakan dan merasakan dan lebih merasakan apa yang buruh-buruh itu, rasakan....
cece....memang benar hidup itu pilihan....
makasih cece, mau selalu berkunjung di note saya
09 September jam 23:04 · Hapus
Zulfaisal Putera
Zulfaisal Putera
Perempuan!
Aku selalu merasa getir membicarakan sisi laranya!
09 September jam 23:07 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Tragis ironis iya, Da. Kita doakan ya semoga negeri ini lebih baik.
09 September jam 23:07 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Hanna Fransisca : ceceku...ne bukan puisi menurutku...hanya sekedar kritikan aja soal masalah perempuan yang tak pernah tuntas di negeri kita. aku sedih cuma bisa menonton, tanpa bisa menolong, makanya aku hanya bisa menulis untuk mereka.

Zulfaisal Puteram : iya bang zul...saya hanya menulis ini karena geram terhadap keadaan dan pemerintah...
09 September jam 23:10 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih buat jempol mungil kawan-kawan...
09 September jam 23:10 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
Unik... entah prosa,puisi,atau apalah namannya... Yg jelas Ida menulis sesuai FAKTA yang tak terbantahkan...
Sy suka jiwa pertentangannya... Slamat Berjuang sobat... ^_^
09 September jam 23:11 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih mas top yang selalu tampil elegan dalam komentar2 nya.....
makasih....
09 September jam 23:13 · Hapus
Kika Syafii
Kika Syafii
Syukurlah kalau masih bisa menikmati suguhan itu, bila sudah mati rasamu berarti kamu serupa jadi pejabat.
09 September jam 23:26 · Hapus
Kika Syafii
Kika Syafii
Atau penyair yang hanya onani itu.
09 September jam 23:27 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih bung kika....ternyata anda selalu mau mengunjungi note-note saya yang sederhana ini...benar karena note ini hanya sebuah kritikan yang sederhana dari pemikiran yang sederhana pula, namun saya ingin mudah di tangkap maknanya oleh si mpembaca yang bukan kalangan penyair....
09 September jam 23:29 · Hapus
Penyair Kecil
Penyair Kecil
Keperduliaan yg sangat tinggi terhadap saudara sebangsa. teruslah ketuk MATA HATI mereka dengan tulis2 kamu yang begitu RAPI.
10 September jam 0:40 · Hapus
Yayan R. Triyansyah
Yayan R. Triyansyah
lanjut terus Ida.....
10 September jam 1:33 · Hapus
A Pan Di
A Pan Di
miskin membuat banyak penderitaan. dilihat, dibaca dan didengar tapi di mana tangan-tangan itu? malah seperti dicipta makin menjadi-jadi....
10 September jam 3:16 · Hapus
Aries Yulianto
Aries Yulianto
Tulisan yang lahir dari jiiwa bersih penulisnya.
Seorang yg tak berdaya membaca zaman dan kelakuan manusia.
Selalu dan masih , perempuan2 itu teraniaya di negerinya sendiri.
10 September jam 6:23 · Hapus
Bayu Soponyono
Bayu Soponyono
Serasa menonton reality show.
10 September jam 6:53 · Hapus
Cepi Sabre
Cepi Sabre
potret yang unik dari makhluk yang bernama perempuan
10 September jam 9:14 · Hapus
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
Tulisan yang menyentuh.
Permasalahan seperti ini memerlukan multidisiplin pendekatan, multidisipilin pengetahuan, dan multidisiplin ilmu.
Sangat kompleks, tapi selalu berawal dari pengajaran dan pendidikan di rumah dan sekolah, kemudian pendidikan dan pengalaman yang memperteguh akan kemuliaan seorang manusia.

Saya sampai sekarang secara umum tidak respek dengan acara televisi yang mengumbar kekerasan dan merendahkan martabat manusia.... Baca Selengkapnya

Hal sederhana tapi penting, kalau razia selalu yang dikejar-kejar dan ditangkap adalah wanita (dalam hal prostitusi).

Memangnya hanya perempuan bisa melakukan prostitusi?
Seharusnya para lelaki juga harus ditangani lebih serius.
10 September jam 10:56 · Hapus
Purwono Nugroho Adhi
Purwono Nugroho Adhi
cerita perempuan,
cerita antara tubuh dan pilihan cinta,
sebuah kontempatio yang mengingatkan,
pada eleven minutes karya paulo coelho
10 September jam 11:14 · Hapus
Hs Mbelink
Hs Mbelink
Yang paling aku suka dari penyair dan seniman seperti kalian, adalah kejujuran. untuk membagi potret kehidupan disekitar kalian !

Dan yang selalu aku kagumi, adalah ketulusan manusia-manusia seperti kalian.

kabarkan padaku lagi pesan yang baru kau bawa pulang dari pengembaraanmu ida !
10 September jam 11:47 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
luar biasa Ida!! kau memang tajam memandang sudut miris negara kita. perempuan. yah, perempuan. kadang kita sendiri bungkam. kita diam. kita takut. atau tak mau ribut. kita sendiri kurang memperjuangkan keperempuanan kita. perempuan masih begitu rendah dipandang. uh. gerah aku membicarakan ini. perempuan masih terjajah, bahkan dalam kelompok terkecil masyarakat kita, keluarga.

secara tulisan, aku suka plot yang kau sajikan diatas. kau perempuan hebat. terimakasih karna kepedulianmu atas ini.
10 September jam 13:47 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
ciamik ida. tulisan ini sederhana. tapi kekuatannya ada pada kisah yang kau angkat. ttg perempuan2 yang berjuang. entah demi motif apa pun (ekonomi atau idealisme) semua realitas yg kau tulis dalam prosa sederhana ini bisa membuka mata lebih lebar.

bahwa apa yg kau ungkap dalam kisah sederhana ini terjadi dimana-mana. diberbagai belahan dunia. tidak hanya di singkawang, indonesia tapi mana bumi di pijak !
10 September jam 15:14 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
menggetarkan sekali tulisanmu ida. sangat menyentuh. secara aq juga prempuan yg hanya bisa membayangkan seandainya posisiku seperti perempuan 2 yg kamu kisahkan itu. meski hanya lewat tulisan, semoga gaungnya tetap menembus ruang dan waktu.
seperti kata pepatah latin, verba valent, scripta manent : ucapan akan mudah hilang, tulisan akan tetap hidup selamanya. bravo ida !
10 September jam 16:04 · Hapus
Trisna Bs
Trisna Bs
sesaat membuat terhenyak... inilah realiti kehidupan....kadang begitu menakutkan bahkan hanya untuk ditatap..... namun ia tetap tuk dihadap....
Bagus teman.. aku suka....
10 September jam 17:05 · Hapus
Aku Diriku
Aku Diriku
kenyataan yang tak terpungkiri....... dan ironisnya ada sebagian yang justru menari-nari dalam kenyataan ini.. thank's sahabat...
10 September jam 19:09 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Walau hanya catatan ringan buatmu tapi sangat besar makna yang terkandung di dalamnya dinda...tulisan yg mengupas sudut wanita mantap dindaku...makasih ya udah berbagi denganku say,salam.
11 September jam 0:07 · Hapus
Ricky Idaman
Ricky Idaman
sangat memprihatinkan, o..h tariklah napas yang panjanmg photret ini menghibau kita untuk berbagi rasa..
11 September jam 2:02 · Hapus
Shaut Ls Hutabarat
Shaut Ls Hutabarat
suarakan terus perjuangan penistaan kaum wanita! tulisanmu ini menarik sekali untuk penggambaan kaum munafik.
11 September jam 9:56 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Penyair Kecil : terima kasih kawan....semoga mereka bisa membuka mata hati, yaitu mereka2 yang melecehkan kaum perempuan....
Yayan R. Triyansyah : makasih kawan....namun apa yang harus aku teruskan????mirip2 Lanjutkan aje
A Pan Di : yah...begitulah potret kehidupan yang ada bung A Pan Di
Bayu Soponyono : reality show?????aku kurang mengerti maksudnya....bung bayu
Cepi Sabre : begitulah mas cepri...perempuan memang unik, memang selalu penuh hal2 yang selalu saja membuat sebuah keistimewaan.... Baca Selengkapnya
Frans. Nadeak : saya sependapat dengan bung frans...makanya saya menulis ini, bukan berarti saya mau di sebut perempuan yang sok peduli hanya di FB, tapi saya memang benar2 peduli...halnya permpuan memang selalu di salahkan, mereka toh tidak bisa berbuat apa2 jika tidak ada lawannya. tidak akan ada penjual jika tidak ada pembeli. yah, kan memang bukan hanya perempuan yang menjual diri, laki2 juga ada. namun kenapa hanya permpuan yang dicacimaki, di hina....
11 September jam 16:32 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Purwono Nugroho Adhi : makasih mas adhi, sudah mau berkunjung ke note sederhana ini....
Hs Mbelink : terima kasih HS, saya hanya mencoba jujur bukan hanya pada orang lain, namun terlebih pada diri sendiri.

Sandra Palupi : mb Sandra yang manis, memang, saya hanya bisa melihat, namun saya tak mau hanya melihat, saya terlebih tak mau merasakan hal yang sama seperti hal yang mereka rasakan. wah, mb Sandra berlebihan, sy perempuan biasa yang masih harus terus belajar dari mb dan kawan2 di Fb.
... Baca Selengkapnya
Anita Rachmad : wah, akhirnya mb Anita kyu muncul lagyi, hehehehe, makasih mb...saya hanya berusaha untuk menulis dan berjuang lewat tulisa...yah tak muluk2lah..hanya mengincar piala Nobel...
wkwkwkwwk

Sayuri Yosiana : makasih sayuri...mudah-mudahan tulisan saya tetap dikenang ya???walaupun cuma Sayuri yang ingat...hehehhhe

Trisna Bs : kawanku...makasih telah mau membaca. inilah bentuk kepedulian kita sebagai seorang PEREMPUAN....
11 September jam 16:40 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Aku Diriku : makasih juga sahabat...yah begitulah hidup ini, memang banyak orang yang menyanyi gembira di atas pedih orang lain.

Fira Rachmat : terima kasih mb firaku yang baik...semoga kita kaum Perempuan lebih peduli lagi.

Ricky Idaman : yup mas Ricky, saya mengambil potret2 ini di Internet....hehehe semoga yang punya tak marah.... Baca Selengkapnya

Shaut Ls Hutabarat : terima kasih bang shaut, wah tadi mau balas pesannya kehabisan pulsa neh bang, heheheheh semoga abang senang. makasih ya bang atas kepedulian abang dengan membaca note sederhana ini.
11 September jam 16:44 · Hapus
Tulis komentar...

Uma' Serupa Izroil*

11 September 2009 jam 17:33


“Mak kan tau, saye baro’ nak dare?”*



Tak ada yang tau aku berjalan dalam angin yang basah dan berjubah kabut dari selatan. Tak ada yang tahu serpihan cahaya menjelma menyelimuti tubuh tipisku. Tak ada yang tau malam itu Izroil menyeretku setengah berlari, ia menaikkan kain di dadanya menuju tanggul dermaga. “Malam ini aku di jemput maut.” Namun bisikku dengan segera lenyap ditelan cacimaki.

Aku ingin tidur. Tidur yang sembari memeluk harap. Namun aku terjaga saat diriku telah berada di tungku nista. “Mak, kenapa kau membakar orok merah?” Inginku gertak begitu.

Lama aku tatap mata izroil, seperti daun beringin tua di bawah jembatan agen*. Aku menguning dan luruh. Izroil, mencekal jemariku, dan tak ada yang tau ketika malam itu. Aku terhuyung menuju kampong kuale*, mendaki bukit, menuruni lembah, mengendap di sudut-sudut jalanan kote Singkawang.

Nafasku tersengal, ketika Izroil menghelaku ke bibir dermaga. Di ujung malam, sampan kayu merapat senyap. “Kau harus pergi.” Bisik Izrail. Aku serapuh tepung kini. Angin basah membawa jasadku berlayar. Membelah teluk menuju laut terjauh. Kulihat serpihan cahaya berpendar searah dermaga. Samar aku dengar Uma’ menjerit




















Catt;
“Mak kan tau, saye baro’ nak dare?”* : bahasa melayu Singkawang/Sambas yang berarti : "Ibu kan tahu saya baru saja dara/gadis/baru mendapatkan haid pertama.

Izroil :adalah malaikat pencabut nyawa...

Jembatan agen adalah jembatan tua di Singkawang yang terletak di Jalan Merdeka, jembatan ini di buat oleh kolonial Belanda.

Kampung Kuale adalah kampung atau desa Nelayan. yang di ujung kampung terletak sebuah teluk yang bermuara di Laut lepas. Rencananya pelabuhan tua itu akan di buat pelabuhan besar tempat kapal dagang masuk, oleh pemerintah namun sekarang "Terlantar" karena terjadi KKN besar2an di sana.



Komentar Publish FB :


Prasetyo Samandiman, Frans. Nadeak, Imam Setiaji Ronoatmojo dan 14 lainnya menyukai ini.
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Ha... Ha... Ha...! Kita jadi koruptor juga, yuk. Eh, ga ding. Moga aja para koruptor itu cepat bertemu dengan Izroil. Berhubung tidak semua teman beragam Islam, alangkah baiknya Izroil itu juga diberi catatan kaki, Da.
***
Puisinya tragis menyentuh, Da. Malam nasib sang 'dare'.
11 September jam 17:39 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Hanna Fransisca : hahahahahah, jangan mb, ntar kawan2 yang lain mau ikutan jadi koruptor ntar kita ga kebagian jatah deh...hheheh iya mb, kan ku kasi juga...aku lupa tadi...
hik...puisi ini jadikan berkat semangat dan dorongan mb Hanna ku tersayang...ceceku yang berhati putih, kalau ku bilang dari emas ntar orang nyatronin rumah mb lagi nyari2 emasnya...wkwkwkwwk...makasih ceceku...
11 September jam 17:42 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Sama-sama kasihnya diterima dan dirawat. Kalau boleh kupinta, jangan menyanjungku terlalu tinggi. Takut jatuh. Bukk! Patah kaki tangan ndak jadi maseleh. Takutnye, aku tok lupe diri... hihi...
11 September jam 17:46 · Hapus
Farhan Satria
Farhan Satria
Puisi ini mungkin dititipkan ke KPK aja ya, biar jadi ucapan selamat datang bagi para tikus negara..
11 September jam 17:47 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
wah, aku rasa tak berlebihan...aku bisa berdiri dengan kaki tak rapuh dalam menulis itu salah satunya berkat prang2 tersayang ya salah satunya ceceku ini.mb hanna ...ehem kalau jatuh mb pilih dari pohon ap?????jangan pohon kedongdong mb...dari pohon seri aje...
wkwkwkww
11 September jam 17:48 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Farhan Satria : hehehehe, bung Farhan bise aje.....hiks...semoga Pemerintah bisa membaca tulisanku ini...hiks...tapi ne bukan hanya sekedar menceritakan koruptor tapi lebih dari itu...
11 September jam 17:50 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
sttt. aku jadi sedih ingat kedondong mungil yang habis kita cicipi terus mati. pot-pot yang pecah. sttt. rahasia kita. wkwkkwkw
11 September jam 17:52 · Hapus
Aries Yulianto
Aries Yulianto
Cantik sungguh puteri Singkawang
sebagai selampai yang melambai
11 September jam 17:58 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Da, komengku di atas, malang maksudnya. Terketik malam lagi. Mentang-mentang malam ini akan bertemu... ehm... ehm...
11 September jam 18:00 · Hapus
Penerbit Kakilangit Kencana
Penerbit Kakilangit Kencana
Menarik, indah...
11 September jam 18:05 · Hapus
Zulfaisal Putera
Zulfaisal Putera
Puisimu kali ini bercerita banyak tentang hakikat hidup dan hubungan antarmanusia. Keterlibatan tokoh-tokoh lain dengan peran dan lakonnya masing-masing makin membuat kekuatan puisi bertambah. Perilaku aku lirik dengan 'izrail' dan pelibatan 'uma' dalam akhir puisi menjadi kunci bahwa imajinasi dan cinta telah mampu meluluhlantakkan logika kemanusiaan. Bahwa kematian itu begitu sulit diterima adalah simpulan indah puisi ini.

Ida,
Lanjutkan!
11 September jam 18:11 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
saya tak ragu lagi, penyair ida ini akan menjadi penyair besar. bersama penyair hanna juga. semoga instingku kelak terbukti benar. amin ya rab.

ih hihi
11 September jam 19:59 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
***Daku aminkan doa Bang HH. Amin. Terima kasih banyak, Bang.
11 September jam 20:03 · Hapus
Arif Gumantia
Arif Gumantia
ternyata singkawang bener-2 banyak penyair-penyair hebat.
puisi di atas..sungguh membawaku ke dalam makna imajinatif, religius, dan juga misterius.
tak mudah untuk membuat sebuah gagasan dalam puisi dengan kiasan, idiom dan juga metapora seperti di atas.
11 September jam 20:14 · Hapus
Cepi Sabre
Cepi Sabre
ih, ida yang dare singkawang, bagusnya.
11 September jam 21:16 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Hanna Fransisca : hiks...tentu saja ceceku, akan aku jaga rahasia kita, kecuali kepada angin yang berdesir...wkwkwkwk aku makin puitis ga mb????

Aries Yulianto : terima kasih mas aries....hehehhe
Penerbit Kakilangit Kencana: terima kasih sudah mau berkunjung ke note saya yang sederhana ini
... Baca Selengkapnya
Zulfaisal Putera : iya bang Zul, saya sangat berterima kasih bag zul mau membaca note saya yang masih harus banyak belajar ini bang.

Jurnal Sastratuhan Hudan : terima kasih bung hudan yang juga sangat baik, mau berkomentar di note saya yang sederhana dan mau meluangkan waktu "membacanya"......

Hanna Fransisca : setuju mb...kita aminkan saja, dan semoga aku tidak rusak karena pujian...

Arif Gumantia : terima kasih mas arif, sudah mau bertandang ke sini, namun saya tunggu majalahnya kok kagak nyampe2 juga ya????

Cepi Sabre : heheheh, mas cepi, bisa aje....saye memang nak dare singkawang asli mas...
11 September jam 21:26 · Hapus
Anggun Veranantika
Anggun Veranantika
wah, kau pandai sekali memainkan katakata dalam ranah etnografis, religi, misteri dalam satu tulisan...

aku suka dgn tulisanmu ini, mbak...!
11 September jam 21:55 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih anggun...
hehehee....makasih karena sudah sudi bertandang ke noteku...
11 September jam 21:59 · Hapus
Aming Kieva
Aming Kieva
kombinasi yang apik, tambah komplit dengan bahasa dan simbol2 tradisi yang kental asli singkawang. salut
11 September jam 22:07 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih mas aming....
maksih juga karena telah bertandang di note saya yang sederhana ini...
saya hanya ingin mengenalkan kota Singkawang kepada kawan-kawan
11 September jam 22:27 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
unik ya Ida... Biak Singkawang ya ida? He.he... Makasih ya udh berbagi karya penuh makna ini... ^_^
11 September jam 22:28 · Hapus
Imron Tohari
Imron Tohari
aku sependapat dengan mentorku Sastrawan Hudan Hidayat, dengan catatan Ida Nursanti tidak mudah patah arang mendapat kritik sepedas apapun, dan tidak lena dengan pujian semanis anggur. he he.

salam lifespirit!
11 September jam 22:38 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Topan Asri : terima kasih mas te-o-pe...sudah mau membaca note saya yang sederhana...aok be biak Singkawang saye

Imron Tohari : terima kasih mas Imron, mudah2an saya memang akan bisa menjadi besar tanpa tersandung kritikan dan terlambung dan mabuk dengan racun pujian
11 September jam 22:45 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih mb weni, ah mb bisa aja.....saya jadi malu...isin...
11 September jam 23:08 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
imajinasimu luar biasa da. kau ajak izroil 'bercanda' dgn cara berlari lari menuju dermaga. kematian seolah kau wujudkan serupa permainan petak umpet, yang siapa cepat dia dapat kematiannya!
dan kau pilih, kematian bunuh diri itu di tepi dermaga.
11 September jam 23:10 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
sangat menggetarkan. merinding bacanya. kamu memang dahsyat ida. ini aq save ya. so great !
12 September jam 8:59 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Anita Rachmad : hehehehhe....mb Anita...yang keren...kita main petak umpet yuk...namun siapa cepat ia yang mengunjungi...hehehe mau dunk ke malang....

Sayuri Yosiana : yuri sahabatku...ah, kau terlalu memuji kawan...nanti saya mabuk siapa yang mau nanggung???
wkwkwwk
12 September jam 13:37 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
ada warna lain di puisimu. dan lagilagi aku salut dengan rasa berbudayamu yg kuat, juga rasa cinta akan tempat dimana kau dilahirkan. kau munculkan hampir disetiap karyamu.
12 September jam 13:52 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
wah, ada mb Sandra...mb..makasih ya udah mau mengunjungi note ku yang sederhana ini...warna lain apakah itu mb???kalau aku boleh tau...aku memang cinta sekali dengan tanah kelahiranku....
12 September jam 14:03 · Hapus
Purwono Nugroho Adhi
Purwono Nugroho Adhi
tutur yang kelam nan berakater,
narasi heterotopia yang menawan,
ada dialog ruang dengan raga,
ada pemaknaan antara peristiwa dengan tempat,
triller yang menghentak, misterius, gelap... Baca Selengkapnya
satu persatu diurai dalam ruangnya,
pada satu cerita dituturkan
12 September jam 14:38 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih mas adhi, wah, saya dapat ilmu baru setiap mas adhi mengunjungi note saya......
12 September jam 16:13 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Hadduh,maaf daku telat berkunjung ke notemu say.. tulisan-tulisan dinda makin hari makin bernyawa,pandai nian dinda. Semoga niatmu memperkenalkan kota kelahiranmu melalui tulisan-tulisanmu kelak terlaksana bukan hanya di ruang ini,Insya Allah lebih dari ini say.Dindaku punya talenta itu. makasih udah berbagi ya say...salam.
12 September jam 19:56 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih juga sudah mau bertandang ke note saya mb firaku yang manis....ah terlalu banyak pujian di sini...kritikanlah sekali-kali...
life spirit mb ku yang cantik
12 September jam 20:41 · Hapus
Imam Setiaji Ronoatmojo
Imam Setiaji Ronoatmojo
@Ida..tulisannya semakin tajam neh, dan bentuknya antara prosa-puisi atau kusebut saja meta-puisi..bila dilihat begitu klu dieksplor malah jadi cerpen yang surrealis..wah, bisa seperti menukik-meliuk kayak lukisan salvador dali..teruslah berkarya Ida..
13 September jam 6:13 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih pak imam...support darim kawan-kawan akan sangat berarti buat saya....life spirit buat pak imam...
13 September jam 21:20 · Hapus
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
Liris...
saya mulai kagum dengang Singkawang..
:-)
Sen pukul 9:52 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
Ida,..warna yg berbeda dr puisi2mu sebelumnya. butuh kecerdasan khusus membuat puisi seperti yg kau tuturkan ini. sisanya,...sudah ada dalam komentar purwono nugroho adhi..hehehe.
Sel pukul 8:43 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Terima kasih mb Sandra...akhirnya aku tau warna-warni itu....
Sel pukul 22:53 · Hapus
Arta Nauli
Arta Nauli
apa yang hendak kukatakan? bukit-bukit yang mengelilingi kotamu itu selalu ingin kutatap, moga terwujud. hehe...
Sel pukul 22:59 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Insya Allah amin...Arta...ah...tak harus kata terucap kawan...
Sel pukul 23:02 · Hapus
Bejo Halumajaro
Bejo Halumajaro
makasih... mantab, semua memuji. tp kayaknya dalam Chatt blum ada arti: Uma'... sebenere cerita ttg aborsi ato korupsi?
Sel pukul 23:04 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
heheheh........
Uma' itu artinya Ibu dalam bahasa Indonesia
iya saya lupa makasih ya kawan....
sebenernya berceritera tentang kisah pilu seorang perempuan muda yang dipaksa ibunya menjual tubuhnya untuk negeri asing, namun ia memilih mati muda daripada berpisah dengan kota kelahirannya. Ia menganggap ibunyalah yang bertanggung jawab atas kematiannya.
namun sebenernya artinya luas kawan...terserah pembaca mengartikan lagi sajak ini.
Sel pukul 23:08 · Hapus
Prasetyo Samandiman
Prasetyo Samandiman
Singkawang... menantang telinga.

2 jempol buatmu

go girl..!
Kemarin jam 3:01 · Hapus
Acep Zamzam Noor
Acep Zamzam Noor
Asyik, asyik, asyik sekali mbak ida, semakin pengen ke singkawang....
Kemarin jam 13:03 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Acep Zamzam Noor : makasih mas Acep yang baik...sudah sudi bertandang ke note saya yang sederhana ini...
semoga sampai ke Singkawang....
6 jam yang lalu · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Prasetyo Samandiman : makasih mas Prasetyo...
terima kasih...buat dua jempolnya itu lho
heheheh
6 jam yang lalu · Hapus

MABUK

31 Juli 2009 jam 19:25

Aku melihatnya tadi sesudah ba'da subuh
dengan sebotol Bir murah di tangan kiri
dan bercelana jins berwarna biru tua
yang sudah lapuk di makan usia

Aku melihatnya lagi,
siang ini selepas ba'da zuhur
dia merapal mantra cinta
diselingi caci maki alat kelamin pria dan wanita
lalu ia melompati tembok bahasa
yang terpaksa ia dirikan saat akan mencampakkan,
secangkir kata-kata

(29 juli 2009)


catt;
berdebar hati tatkala akan mempublish puisi ini....
ah, tak apalah sebgai bekal di hari tua
saya berani memperlihatkan unkapan hati nurani di dalam dada


Komentar Publish FB :

Sayuri Yosiana, Antok Serean, Ping Homeric dan 5 lainnya menyukai ini.
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@topan and mb hanna, makasih ya jempolnya
31 Juli jam 19:29 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
***lalu ia melompati tembok bahasa
yang terpaksa ia dirikan saat akan mencampakkan,
secangkir kata-kata***

aku suka kalimat-kalimat itu, Da. Keren.
31 Juli jam 19:30 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
Mb Hanna Fransisca, Ini menurut ku yg mak nyusssssss:

***dia merapal mantra cinta
diselingi caci maki alat kelamin pria dan wanita***
... Baca Selengkapnya
nah... pada bagian itu keliatan deh gimana Ida sesungguhnya... Ha.ha.haaaaaaaaaaaaa
31 Juli jam 19:35 · Hapus
Ali Fanie
Ali Fanie
asyik juga karyanya mbak, sayang terpenggal dengan kalimat*** diselingi caci maki alat kelamin pria dan wanita** gregetnya jadi kurang, hehehehe..
31 Juli jam 19:37 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@Mb hanna : thanx ya mb buat komennya,mudah2an saya akan dapat lebih baik dalam menulis
@Topan : jangan gila dunk, biasanya orang mabuk itu kan ga sdar dengan apa yang ia katakan, kalau ia mabuk gara2 patah hati ia pasti akan marah dengan orang yang membuatnya hancur, biasanya (apalagi kasus pasha ungu) dia ga mabuk aja bisa memaki2 mantan istrinya dengan kata2 ga sopan seperti yang saya tulis tadi
@ali : thanx....terpenggal????
31 Juli jam 19:43 · Hapus
Jeppe Indrawisudha
Jeppe Indrawisudha
Kalau boleh tau, apakah ba'da juga berarti sesudah atau setelah? lalu imajinasi kata yang liar rasanya tak perlu dimintakan maaf lah....
31 Juli jam 19:55 · Hapus
Bayu Soponyono
Bayu Soponyono
Gambaran seorang pemabuk yg khas.
Telanjang dada dan menenteng botol.
31 Juli jam 20:19 · Hapus
Gus Cholid
Gus Cholid
lukiskan perasaanmu dalam tulisanmu
maka kau pun hidup dalam catatanmu
kendati kelak berwajah debu
31 Juli jam 21:20 · Hapus
Amik Koofee
Amik Koofee
"sebotol bir ba'da subuh"

ha ha ha ha, itu brillian ida.
31 Juli jam 23:23 · Hapus
Cepi Sabre
Cepi Sabre
bahasa, juga caci maki, menjadi berbeda di tangan penyair.
31 Juli jam 23:56 · Hapus
Ping Homeric
Ping Homeric
ada keliaran yg kau selipkan di sini dgn rasa yg berbeda... :) aku suka, kawan!... Trims tlah berbagi rasa yah!
01 Agustus jam 9:19 · Hapus
Purwono Nugroho Adhi
Purwono Nugroho Adhi
bertutur manis,
berkisah,
ada simpul yang tererat,
antara cerita dan maksud,
epilog mu itu
01 Agustus jam 15:06 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@jepe : iya ba'da itu sesudah atau setelah
@bayu : hehehehehhe, terinspirasi melihat lelaki mabuk di sudut pasar tradisional
@gus : maksud dari kelak berwajah debu itu apa????
amik : thanx yau
@cepi : terima kasih atas komennya mas cepi... Baca Selengkapnya
@ping : hehehehe keliaran yang membuat orang banyak merasa berbeda???
@Purwono : terima kasih,,,,,, saya merasa terengah-engah hari ini
01 Agustus jam 16:28 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
aih, kejujuran memang mendebarkan ida nursanti basuni. dan hasilnya, aku memang dibuat berdebar debar setelah membacanya. apakah ini ida yang asli ?
he..he...hua..ha.....ha..........
piiiz sist !
01 Agustus jam 18:48 · Hapus
Antok Serean
Antok Serean
nah, harus berani ida, jangan takut menulis, terlebih publish di fb. terbukti, puisi yang ini lebih bagus dari yang kemarin.
01 Agustus jam 22:06 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
wuiih...mantaff frend...aiih ida hehe, selepas ba'da subuh berikutnya, ajak daku melihatnya bersamamu, lelaki yg melompati tembok bahasa itu.
02 Agustus jam 23:16 · Hapus
Sufriady Saleh
Sufriady Saleh
Setuju sama jeppe
10 Agustus jam 2:54 · Hapus

AKU BERTEMU DENGANNYA DI DEPAN BIOSKOP TUA

01 Agustus 2009 jam 16:59

Aku bertemu dengannya di depan bioskop tua
peninggalan Belanda
saat aku beli setangkup kacang rebus yang tak bergaram
pada lelaki tua berpeci hitam, bersepeda renta
ia menelanjangi fikiranku,
dia bilang " Hatiku habis tertelan gelap"

Esoknya, kutemui lagi ia di depan bioskop tua
peninggalan Kolonial
sambil mengecap manisnya harumanis
(yang manisnya pemanis buatan membuat gigi ngilu)
dan aku menatap matanya
namun kali ini aku yang membuatnya
Telanjang

(31 juli 2009)

Ping Homeric, Sayuri Yosiana, Cepi Sabre dan 8 lainnya menyukai ini.

Komentar Publish FB :

Keroncong Sunyi
Keroncong Sunyi
Penangkapan fenomena yang kontradiksi dan ironis pada pengalaman hidup penulis yang kemudian menjadi teks yang ciamik hingga menyadarkan betapa hidup ini penuh kontradiksi dan tak bisa direncanakan

Makasih
fitrah anugerah
01 Agustus jam 17:28 · Hapus
Ricky Idaman
Ricky Idaman
kok agak menurun kata yang digunakan...kurang tidur kali ya...ida..?
01 Agustus jam 17:40 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
Dalem... keren!!!
01 Agustus jam 17:40 · Hapus
Imam Setiaji Ronoatmojo
Imam Setiaji Ronoatmojo
@ Ida : saya salut dgn kejujuranmu..yang trs meng-eksplor..aku bs tangkap maksudmu..puisi yg hebat..tp menurut versiku (klu boleh sedikit dandani aja):

Aku bertemu dengannya
di depan bioskop tua
peninggalan Belanda... Baca Selengkapnya
saat aku beli setangkup kacang rebus
tak bergaram
pada lelaki tua berpeci hitam, bersepeda renta
sergahnya " hatiku habis tertelan gelap"

Kutemui lagi esoknya,
di depan bioskop tua
peninggalan kolonial
sambil mengecap manisnya harumanis
(yang ngilu manisnya)
dan aku tatap matanya
kali ini aku membuatnya
telanjang

Selamat berkarya..
01 Agustus jam 17:53 · Hapus
Amik Koofee
Amik Koofee
hmm.... :)
01 Agustus jam 17:56 · Hapus
Ali Fanie
Ali Fanie
Aku menikmati karya ini...aku suka.
01 Agustus jam 18:10 · Hapus
Andreas Stiven
Andreas Stiven
teruskan teteh !!!
01 Agustus jam 18:29 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
peninggalan kolonial....peninggalan belanda...
lalu......hal apa apa yang membuatnya merasa telanjang, setelah menatap matamu ?
tak kutemukan makna yang utuh dari puisimu ini, ida nursanti basuni cantik nan elok dan anggun.
kutunggu lagi, puisi dan ceritamu yg keren seperti Angela !
01 Agustus jam 18:34 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
bioskop tua, seorang lelaki, bioskop tua, seorang perempuan, bioskop tua yang memutar film film tua - hingga jaman kolonial, hingga jaman kini kah? bioskop tua, telah memutar kenangan kita. puisi yang menarik, walau idenya abstrak sekali.
01 Agustus jam 18:50 · Hapus
Imron Tohari
Imron Tohari
Pesan yang ingin disampaikan ke pembaca agak lemah. Di sini yang dijadikan penokohannya selain tokoh aku, juga samar.
secara idea tema cukup bagus.

Salam lifespirit!
01 Agustus jam 19:42 · Hapus
Ahmad Irfan АW
Ahmad Irfan АW
terimaksih tag-nya.... kalo ada poto2 menarik lain kali di-tag ma aku juga ga pa2
01 Agustus jam 20:24 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Makasih puisi indahnya, Da. Nostalgia nih sampai jaman Belanda. Semangaaaaat! Ayo, buatlah lebih banyak puisi. Pasti bisa!
01 Agustus jam 21:22 · Hapus
Antok Serean
Antok Serean
hmm...
01 Agustus jam 22:10 · Hapus
Penerbit Kakilangit Kencana
Penerbit Kakilangit Kencana
Hmmmmm... produktif.
02 Agustus jam 0:04 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@fitrah : terima kasih....sebenernya saya mencoba untuk bersikap jujur dalam kehidupan sehari-hari saya yang juga saya terapkan dalam puisi2 dan setiap tulisan2 saya
@ ricky : iya neh mas banyak yang dipikirin...
@Topan : thanx....banget
@bang imam : wah saya merasa tersanjung sekali, karena saya akui, setiap saya menulis di FB saya tidak ingin membuatnya sempurna, karena lewat FB ini saya belajar banyak darin guru2 yang sudah berpengalaman seperti mas imam....saya suka banget dengan puisi saya yang didandani.....
@amik : napa cm hmmm... Baca Selengkapnya
@ali : thanx....yua
@thanx juga stive adik teteh yang pinter
@mb.anita....heheheh thanx ya buat masukannya, tapi saya tak pernah menulis angela. angela itu karya sayuri
@bang huda : lewat komentar2 bang hudan selama saya menulis puisi di FB ini, saya banyak belajar tentang satra, karena selama ini saya hanya belajar otodidak, pelajaran sastra waktu SMU sangat2 kurang....
02 Agustus jam 17:33 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@bang imron : thanx buat masukan-masukan selama ini, heheheh ternyata bang imron selama ini terus mengunjungi note saya
@bung ahmad : oh, sangat2 boleh, makasih telah berkunjung di note saya
@mb.hanna : Semangat itu terus ada karena mb yang selalu mendukung saya di saat saya lelah bertarung maupun gegap gempita karena bahagia
@antok : napa cm hmmm
@kaki langit : trima kasih di bilang produktif...
02 Agustus jam 17:35 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
aku suka sajak ini, menarik dan apik.salut ida.
04 Agustus jam 1:06 · Hapus
Blalang Kupukupu
Blalang Kupukupu
Bahkan untuk gairah yang sekedar,
mesti ada yang berkorban. Bulan
yang berongga. Matamu yang malam.
Dan cahaya yang padam, dalam
goresan biru tua dan hitam. ... Baca Selengkapnya

Oh altar, doa siapa yang hambar telah?
Di tengah sapuan kuas ini, berdetaklah
segala yang mati dan terbenam.

Bangkitlah bintang-bintang, bangkit
dari kejauhan yang dekat. Dan mendekatlah
kemari. Ke jauh lekat kuning matang
matahari, agar nyala kembali lampu
di kolong ranjang ini.
04 Agustus jam 15:55 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Pensejajaran dalam larik larik
ia menelanjangi fikiranku,
dia bilang " Hatiku habis tertelan gelap"
dengan
namun kali ini aku yang membuatnya... Baca Selengkapnya
Telanjang

hanya mungkin kalau ke dua orang itu mempunyai keterkaitan pengalaman bersama artinya lelaki tua itu bukan anybody tetapi somebody..so please call me father...
05 September jam 20:23 · Hapus
Ping Homeric
Ping Homeric
mau nonton film apa hari ini, Idaku em?? hehe.... puisi yg tak biasa, sedikit aneh, misterius (seperti tatapan matamu itu, Ida!!).... namun kerennya aku doyan!! aku selalu suka dgn tekukan2 di akhir 'crita'nya... menyentil hatiku, membuatnya sedikit berdansa, hehe..... asik! asik, Ida!! :)
06 September jam 10:38 · Hapus
Tulis komentar...

Mamat dan kampanye

03 Agustus 2009 jam 20:49

Bulan juni tadi si Mamat menangis dalam gendongan
Sejak kemarin tak minum susu
Tetek emak kering kerontang serupa musim panas

"Tenanglah anakku sayang
Jangan kau menangis lagi
Lihat itu si penabur mimpi meneriakkan janji"

Mamat terus menangis hingga wajahnya putih
seputih susu formula yang harganya melambung akhir-akhir ini
bujuk sang emak tak geming, Mamat terus melengking

"Walau berdesak-desakan, walau perut kita lapar
Biar dahaga kerongkongan,
kau dan mak harus dengar janji dan pekik perubahan
agar kita bisa terus berharap nak.”

Lewat keheningan yang
Dibasuh Sorga, azan subuh menlengking memecah hening
pintu rumah di ketuk perlahan
sebuah plastik hitam dan amplop putih ia serahkan
dua kilo beras, sekaleng susu cap nona, dan sekilo gula pasir
namun amboi, terselip sebuah kertas di sana,
rupanya di lembar itu tertulis,

"jangan lupa pilih saya
jika ingin mendapatkan lagi plastik hitam yang sama di bulan puasa"
(2 agustus 2009)


Cepi Sabre, Imron Tohari, Sandra Palupi dan 6 lainnya menyukai ini.

Komentar Publish FB :

Kwek Li Na
Kwek Li Na
ha ha ha...keren!
03 Agustus jam 20:52 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
Keren da... lu belajar dimana da??? mantebs... :)
03 Agustus jam 20:53 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Wew! Tidak lagi nyindir si dia kan. Hahaha. Ingat kampanye euy! Aku tok agik di Pontianak dalam perjalanan ke Singkawang.

Puisimu asyik. Menceritakan kehidupan wong cilik. Aku jadi bertanya usil, Da. Andainya waktu kampanye itu panjang akankah kegiatan membagi sembako itu akan berlanjut panjang juga ya? Hahaha...! Ah, aku calonkan dirilah kelak kalau gitu. Doakan aku ih.
03 Agustus jam 20:54 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
thanx to kwek lina and topan
03 Agustus jam 20:54 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
kalau dukung mb pasti,,,aku siap jadi tim suksess, tapi ntar minta proyek bikin jalan yang gede ya, yang 500jt cukuplah
wkwkwkwkkw
asyikkkk mb pulang.....
03 Agustus jam 21:00 · Hapus
Amik Koofee
Amik Koofee
hi hi hi, aku baca berulang... dan setiap sampai di akhir yang " bulan puasa " itu, ketawa saja aku terus hi hi hi thanks ida dalam kisah sedih ini, masih sempat kau buat aku tertawa hi hi hi mungkin juga menangis
03 Agustus jam 21:04 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
hehehehhehe, kan kebanyakan emang begitu amik.....
03 Agustus jam 21:05 · Hapus
Ali Fanie
Ali Fanie
Tapi janji tinggal janji, apalah daya...
03 Agustus jam 21:31 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Akan kutulis pendapatku tentang puisi-puisimu... aku butuh waktu..setuju.....
03 Agustus jam 21:47 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
baca ini, aku seperti baca apa ya......sajak atau apa ya. ringan, pesannya utuh dan jelas. baca sekali langsung bisa nyantol. personifikasinya juga keren.... tetek emak kering kerontang serupa musim panas....cool !
03 Agustus jam 22:00 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@ali : thanx ya ali...miriplagu2 picisan aja ya janji tinggal janji
@mas Loektamadji : saya tunggu lho komentar2nya....saya jadi berdebar2 menunggu
@mb.anita : hehhehehe, saya cm menuli dengan intuisi sederhana yang saya punya
03 Agustus jam 22:08 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Iya Insya Allah....selamat malam Ida....
03 Agustus jam 22:14 · Hapus
Keroncong Sunyi
Keroncong Sunyi
Mestikah aku bertahan pada rintih anak lapar. Mestikah kubertahan pada rayu seorang caleg.
Thanks note nya mbak yg penuh ironi dalam hal yang paradoks
03 Agustus jam 23:51 · Hapus
Antok Serean
Antok Serean
jadi ingat lagunya iwan fals.
04 Agustus jam 0:25 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
hahaha, mantafff..apalg endingnya.yuhuuu, semogalah ada para caleg ( eh dah bkn caleg dunk ya) yg membaca sajak ida ini....sekedar ingatkan janji yg pernah mereka pekikkan kemaren2....sip ida!
04 Agustus jam 0:53 · Hapus
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
Ha... ha... ha...
puisi yang sangat unik... sangat mempengaruhi..
ha... ha.. ha.
04 Agustus jam 8:20 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
Ida,..jika kau tulis puisi macam begini terus. dengan topik yg berganti (juga up to date), sepertinya selalu jadi yg pertama kubaca di pojok koran. salut Ida, akan kecemerlanganmu baca situasi sosial bangsa kita.
04 Agustus jam 9:53 · Hapus
Cepi Sabre
Cepi Sabre
hahaha di endingnya. ternyata pemilu cuma buat dapat kresek ...

*kresek = plastik pembungkus
04 Agustus jam 10:25 · Hapus
Dhya Bella
Dhya Bella
Puisi satire yang ditulis dengan gaya unik.. alurnya cukup nikmat dibaca.. menarik!
04 Agustus jam 11:44 · Hapus
Bayu Soponyono
Bayu Soponyono
Good luck 4 U.
Bahasa simpel yg mudah dicerna di jaman yg serba instan.
Kritik sosial yg wooow. . .
Nonjok banget bro !
GBU
04 Agustus jam 11:50 · Hapus
Imam Setiaji Ronoatmojo
Imam Setiaji Ronoatmojo
@Ida :..kau telah ciptakan idiom unik .."tetek emak kering kerontang serupa musim panas"..coba aduk lagi idenya, hingga lbh bnyk imaji lagi lahir..itu komen-ku.. teruskan (bukan 'lanjutkan' ntar dikira idiom kampanye ya..)
04 Agustus jam 15:25 · Hapus

Juli yang merah

03 Agustus 2009 jam 21:13

Sampai kemarin ku memanen tangis
mataku sembab, lebam, diziarahi nestapa
Hawa kematian
berlari memikul ribuan keranda
pontang panting di bulan juli yang merah

Setelah hati ini,
hangus jadi debu,
esok entah di mana kau tabur mesiu

Aduh, semua perih, semua ranap
hancur

mesiu bertaburan
wajahku tersayat-sayat
sakit
ngilu

Aduh,
aku tak sanggup

Kepala, jantung
dan seonggok tubuh malang
asyik berguling-guling di tengah derita

Aduh,
tak pelak
setetes harapan membusuk
menjadi bangkai di tengah-tengah
puing reruntuhan

Andai bisa menjadi tanah
Lenyap lara seketika

(1 agustus 2009)


Sufriady Saleh, Nani Mariani, Frans. Nadeak dan 7 lainnya menyukai ini.

Komentar Publish FB :

Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
banyak orang di JW Marriot and Ritz carlton antok
03 Agustus jam 21:19 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Aku kosakata baru ya, Da? Hancu gitu? Hehe. July Merah. Sangat memilukan. Eh, aku sampai Singkawang kira-kira jam sebelas lewat. Mau cari makan di pasar Hongkong. Nyusul ih sama Topan.
03 Agustus jam 21:29 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Eh, kok aku. Maksudku ada. Huh! Maklumlah. Tulis di HP. Imut benar huruf2 dan sangat tak nyaman. Main ngeraba dalam gelap soalnya. Hahaha!
03 Agustus jam 21:31 · Hapus
Amik Koofee
Amik Koofee
menurutku aja sih, sepertinya lebih terasa kalo kamu nulis dengan pengucapan seperti ini hiks sory tapi bagus puisi ini hiks lebih terasa oh juli yang merah
03 Agustus jam 21:32 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
wuah....
thanx banget buat amik....
mb topan udah berlabuh di rumahnyua
dia besok harus bangun pagi.....tapi aku bisa nyusul dhe
buat mb q apa seh yang gak
03 Agustus jam 21:40 · Hapus
Ricky Idaman
Ricky Idaman
kalu kita buat sajaarena puisi..disini bagimana, banyak koleksi nantinya secara nasional..ok buat buku..gimana..?
03 Agustus jam 21:59 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
mau banget......tapi penelitian yang kemaren boleh juga
03 Agustus jam 22:10 · Hapus
Kwek Li Na
Kwek Li Na
bagus dan apik Ida.
03 Agustus jam 22:17 · Hapus
Nung Bonham
Nung Bonham
menyedihkan sekali...
03 Agustus jam 22:22 · Hapus
Ali Fanie
Ali Fanie
Jadi merasakan gimana perihnya terkena hantaman Bom, dan peluru, waahh aku malah masuk di dalamnya nih..asyik banget bacanya.

salam
03 Agustus jam 22:26 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
hik..hik...kau membuatku nangis ......
04 Agustus jam 0:21 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
mengharukan...juli g memerah
04 Agustus jam 1:00 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Derita nestapa mengapa kau toreh luka pada wajah manis ini.
Puisi yang mengharu biru...love it...salam yah dariku Fira.
04 Agustus jam 2:46 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
kyok lepsyas hehe keyak ya ida. ih fira i yura hehe
04 Agustus jam 9:06 · Hapus
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
Oh!
04 Agustus jam 10:26 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Mas Hudan oho oho oho...hiks!
04 Agustus jam 13:35 · Hapus
Imam Setiaji Ronoatmojo
Imam Setiaji Ronoatmojo
..@ Ida..puisimu yang ini kayaknya terlalu "metal" bagi mata tuaku..hehehe..tp teruslah berkarya ya..
04 Agustus jam 15:31 · Hapus
Nani Mariani
Nani Mariani
hikss...
dahsyat bombom bom bom itu
sampai ke telinga dan jantung ku
perih!!
maksih dan salam sayang dari hati..
06 Agustus jam 15:26 · Hapus
Sufriady Saleh
Sufriady Saleh
dan baju kebanggaanku
yang warnanya merah putih itu
koyak pada siku dan bahu
siku yang kusingsing ketika berpeluh
dan bahu tempat beban kutumpu... Baca Selengkapnya
dirobek benalu yang meranggas angkuh
yang melihat beda dengan kacamata bergagang kaku.
10 Agustus jam 2:46 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih buat mb nani mariani....hiks...salam sayang dan kasih juga dari hatiku terdalam mb...

mas sufri...makasih...
indah nian sajak itu...
menyentuh...
05 September jam 20:14 · Hapus

Tentang emak....

06 Agustus 2009 jam 23:08

Mengapa emak
masih saja mengingkari malam?
saat kau hilang di telan pekat dan waktu
untuk menghangatkan jiwaku
di ketiakmu yang keriput

(Inspiration from perempuan yang menghanyutkan bayinya ndi sebuah kota di Indonesia dan seluruh negara bagian di dunia yang maha besar)


Catt :
saya menulisnya cm setengah jam...
jadi ne hanya sebuah puisi sederhana...
hehehhehe,

Frans. Nadeak, Kwek Li Na, Imron Tohari dan 8 lainnya menyukai ini.

Komentar Publish FB :

Herry Herdinata
Herry Herdinata
sangt sayang sama mak ya?
06 Agustus jam 23:12 · Hapus
Ricky Idaman
Ricky Idaman
ya...maaf aja bila tidak berkenan..ok..i hope you happy and to happinees every time..and sucses too..
06 Agustus jam 23:16 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
maksudnya mas ricky????
06 Agustus jam 23:16 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
iya neh herry
aq sayang banget ma mamaku
cm orang saraf yang ga sayang sama ibunya
06 Agustus jam 23:17 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
ini kicau percatama ya ida nursanti. dan langsung menyentuh kedalaman kalbu perempuan yang entah apa dia pikirkan, kok sampe buang anak.
06 Agustus jam 23:19 · Hapus
Herry Herdinata
Herry Herdinata
mana ada anak yg ga sayang ibu.surga itu terletak ditelapak kaki ibu
06 Agustus jam 23:20 · Hapus
Bayu Soponyono
Bayu Soponyono
Karena kodrat perempuan adalah selalu mengingkari waktu.
Piss.
06 Agustus jam 23:21 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
herry, kalau ga ada anak yang ga sayang ibu, ga akan ada cerita malin kundang yang dari cerita dongeng ampe malinkundang modern
06 Agustus jam 23:22 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
mb ku anita yang manis,,,, ne hanya perwujudan cerita tentang ibu yang tega membuang anaknya di kali
banyak sudah berita2nya
menurutku kenapa harus membuatnya tokh di buang mending jangan dibuat...
06 Agustus jam 23:24 · Hapus
Herry Herdinata
Herry Herdinata
gara2 puisimu da,jadi pengen plng kampung ketemu mak.emang cerita maling kundang nyata gtu.
06 Agustus jam 23:27 · Hapus
Shaut Ls Hutabarat
Shaut Ls Hutabarat
pendek, tapi sangat dalam... keren!
06 Agustus jam 23:51 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
mantaff...singkat bermakna, ida.
07 Agustus jam 0:50 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
He3x thanx to sayuri n bng shaut tp kl bs kritik dun sayuri
07 Agustus jam 1:45 · Hapus
Arta Nauli
Arta Nauli
terimakasih mengingatkanku pada makku..
07 Agustus jam 2:24 · Hapus
Shu Shan Wang
Shu Shan Wang
Kasih ibu spanjang masa..doa ibu slalu mnyertai d stiap lngkah qt..
Sdurhaka apapun seorg ank,msh da kt maaf dr seorg ibu..
So sayangi ibu qt sperti kasih syg tulus mrka kpd yg tak lekang olh wkt..
I luv my mom..
07 Agustus jam 3:32 · Hapus
Amik Koofee
Amik Koofee
tiba-tiba saja aku sudah berada di ketiaknya yang keriput itu he he pendek banget sampe lupa mau ngomong apa tapi hmmm juga sih hi hi semangaaaatt
07 Agustus jam 3:39 · Hapus
Imam Setiaji Ronoatmojo
Imam Setiaji Ronoatmojo
..pendek bukan brarti tanpa makna..justru dgn pendek maka akan s'makin bernas..@ Ida puisinya tambah cakep kok, kaya makna..dan menggelitik dengan rahaasia..
07 Agustus jam 5:45 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Sudah dapat note migrasinya belum Suni..Emakku adalah angin semilir diwaktu subuh
07 Agustus jam 6:16 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Ketika emak punya anak... Dia harus mengingkari dirinya... Badan yang lelahpun diingkarinya agar anak kecilnya tidak menangis lagi karena minta susu.. Duka derita dalm kehidupannya diingkarinya ketika anak kecilnya berbicara dengan binar mata dan senyum mungilnya. Seorang emak harus banyak mengingkari dirinya demi anaknya
07 Agustus jam 8:07 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Keren, Da. Mantap puisinya.
07 Agustus jam 10:49 · Hapus
Arif Gumantia
Arif Gumantia
singkat tapi memikatku...
07 Agustus jam 10:56 · Hapus
Imron Tohari
Imron Tohari
kian matang dalam makna setia[ gores-gores puisi yang kau ukir.

salam lifespirit!
07 Agustus jam 12:53 · Hapus
Kwek Li Na
Kwek Li Na
orang yang sanggup membunuh anaknya sendiri tak layak di sebut emak. Ia juga bukan manusia.

binatang saja, akan menjaga anaknya dari segala ancaman.
07 Agustus jam 18:27 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
tulisanmu adalah jiwamu, saat pena menarikan kata indah ini dan mengupas sosok emak merupakan sentilan bagi perempuan-perempuan tak bernurani...bagus kawan... makasih telah berbagi...
07 Agustus jam 21:33 · Hapus

Java dan Borneo

12 Agustus 2009 jam 18:56

Kalau aku boleh mengurai khayal
samudra luas dan langit yang tak selalu terang itu
akan aku jadikan peta
kulipat kecil segi empat
lalu,
lihatlah!!!
sekarang Java dan Borneo semakin dekat


Andai aku boleh mengurai lamun
ingin segera aku
menggambar laut, sungai, dan langit
di selembar kertas dan kuwarnai ia
kulipat,
hopla....
Java dan Borneo ternyata dekat
tak sampai semenit
aku tlah duduk di sampingmu
menyeruput secawan kopi
yang dibubuhi sesudu krim coklat
sambil menemanimu
berselancar dan bercengkrama
terbang menyusuri
dunia penuh warna


catt :
sebuah mimpi tentang kerinduan berjabat tangan dengan :

1.Hanna Fransisca : sahabat sekaligus cece yang selalu memotivasi langkahku yang kadang tersendat
2.Ayah Loektamadji.A.Poerwaka : sosok bapak baru yang lancang saya minta jadi bapak saya, karena baru saya temukan lagi setelah 16 tahun saya kehilangan bapak kandung saya
3.Anita Rachmad : my sister...selalu buat saya tersenyum neh...
4.Maghfira Mimi : sahabat yang care banget di FB ini...
5.Shaut Hutabarat : He is brother and he is friends forever


Mujiono Koswara, Imron Tohari, Cepi Sabre dan 5 lainnya menyukai ini.

Komentar Publish FB :

Ricky Idaman
Ricky Idaman
semoga kerinduan mu terobati dengan puisi ini..selamat berkarya..
12 Agustus jam 19:00 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
he.he.he... yukurlah Ida Nursanti Basuni udah dapet sosok ayah... puisi yg indah... ^_^
12 Agustus jam 19:10 · Hapus
Khaerud Dawam II
Khaerud Dawam II
Smoga rindumu terobati sista!
12 Agustus jam 19:20 · Hapus
Trisna Bs
Trisna Bs
Smga kerinduan itu.. Slalu mjdi kekuatan tuk cita qt mengapai mrka... Menikah ato blm.Xixixh
12 Agustus jam 19:31 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Aku jadi tersanjung...padahal aku si schizoprenik yang membaca kalimat seperti membaca wajah dicermin bersudut banyak, terjeda-jeda dalam titik, koma dan tanda tanya... terima kasih anakku...
12 Agustus jam 19:35 · Hapus
Shaut Ls Hutabarat
Shaut Ls Hutabarat
doa bukanlah mimpi, tapi asa yang akan Tuhan berikan untuk mewujudkan impianmu, wahai, my sister... jangan padamkan semangat juangmu. :)
12 Agustus jam 20:24 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Ufh... Hampir saja aku kehilangan semua kata.

Ida, sahabatku tersayang, motivasi itu ada karena kemauan Ida untuk belajar dan berusaha lebih keras serta tekad untuk maju. Sesungguhnya aku tidak berbuat apapun. Semua itu memang dikarenakan potensi dan semangat Ida.

Apapun ceritanya, aku tersanjung sekaligus terharu membaca namaku di atas sana. ... Baca SelengkapnyaDalam keharuan yang tak terkatakan ini, ijinkanlah aku peluk erat dirimu. Dan dengarlah bisik hatiku, "Terimakasih, Adik. Apresiasimu berlebihan untuk seseorang sepertiku. Tak ingin cengeng, tapi...air mata itu bergulir begitu saja dari mataku. Doaku, Tuhan memberkati setiap langkahmu". Amin.
12 Agustus jam 20:35 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
oh my ........speechlessss.........ihik...hik.......
12 Agustus jam 22:26 · Hapus
Antok Serean
Antok Serean
ida, thanks udah tag aku. hmm, gimana ya...kritiknya: tata kata dan tata bahasa kacau.
12 Agustus jam 23:11 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
My sweety Ida...a friend give hope when live is low..a friend is place when u have now where to go..a friend is honest,a friend is true and a friend is U SWEET Ida... makasih kawanku manis...
12 Agustus jam 23:17 · Hapus
Ricky Idaman
Ricky Idaman
kita harus hidup pada kenyataan. sebab impian yang tidak terwujutkan lebih menyakitkan lagi dari sakit sebelumnya...
13 Agustus jam 1:13 · Hapus
Imam Setiaji Ronoatmojo
Imam Setiaji Ronoatmojo
..silaturahmi puisi itu membebaskan, sy puya banyak catatan2 masalalu dlm btk puisi yg sll dibc setiap saat, dan menambah makna kita ke depan..selamat berkarya (terus) Ida..
13 Agustus jam 2:04 · Hapus
Farhan Nefo
Farhan Nefo
Puisi indah tak trnilai dgn angka hnya rasa, jwa dan hti dpt mnlainy.. Rsapi stu dmi stu kta yg tlah terukir trus pjamkn mta prlhan kt msk kdlam alam puisi itu!
13 Agustus jam 21:25 · Hapus
Tulis komentar...

Jarak selepas subuh

26 Juli 2009 jam 19:54


Aku lihat malam melepas jarak selepas subuh,
aku jatuh atas punggung waktu
bersama gerimis daun-daun mengapung di jalanan
hujan pula mengendap mdi tapak-tapak kaki,
"Kau mencari ke mana??"


Aku lihat, malam telah mendahului subuh,
bersama gerimis pagi,
ia mengenang di pelupuk mata ibu ku,
aku masih saja terus melirih,
di balik pelupuk mata ibu, tak kunjung reda berembun

Kau dan aku telah sama-sama melihat, malam telah berlari mencari pagi
lewat huruf-furuf yang bergelayut di ranting-ranting kamboja,
juga secangkir puisi yang tanggal di belakang almanak
saat kau dan aku terus bersama birahi
"Siapa yang akan mengakhiri dusta?"




Sayuri Yosiana, Antok Serean, Topan Asri dan 2 lainnya menyukai ini.

Komentar Publish FB :

Imron Tohari
Imron Tohari
puitisasi bahasa indah membalut nuansa relegi.
aku tersungkur, betapa tiada berdayanya kita insan di haribaan Allah.

Maha besar Allah dengan segala Dzat-Nya. Amin3x.
... Baca Selengkapnya
Salam lifespirit!
26 Juli jam 20:08 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
amin....
ternyata bung imron dapat memahami maksud hati saya
life spirit.......
26 Juli jam 20:11 · Hapus
Bayu Soponyono
Bayu Soponyono
Kemauan emang melawan takdir.
Tp hidup jg harus punya kemauan.
Tp Tuhan tentu tau porsi kemampuan kita.
26 Juli jam 20:33 · Hapus
Bayu Soponyono
Bayu Soponyono
Kemauan emang melawan takdir.
Tp hidup jg harus punya kemauan.
Tp Tuhan tentu tau porsi kemampuan kita.
26 Juli jam 20:33 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Amin.....................semangat...........
26 Juli jam 20:37 · Hapus
Penerbit Kakilangit Kencana
Penerbit Kakilangit Kencana
Menarik...
26 Juli jam 21:47 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
wow kereen ! kudapatkan pesan-mu meski harus meraba-raba. he..he...maklum, puisi bikinan ida nursanti selalu aku terengah-engah !
27 Juli jam 13:37 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
tERIMA KASIH SANGAT ATAS KOMENTAR2 NYA
HEHEHHEHE
MERASA SANGAT-SANGAT TERENGAH-ENGAH JUGA
28 Juli jam 16:34 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
indah,,puisi yg sangat indah...great!
29 Juli jam 2:40 · Hapus
Sufriady Saleh
Sufriady Saleh
Harus pake kacamata
10 Agustus jam 3:24 · Hapus

AKU PULANG, IBU

30 Juli 2009 jam 12:42

Kemarin, ku buat secangkir puisi dari labirin kekusutan benang
Kemarin, ku kecup angka almanak yang tertinggal
kemarin, ku berjalan di lorong sempit
ribuan paku bertebaran di tanah berselimut nafsu

Hari ini, aku rebah bersama dedaunan busuk beraroma kamboja
Disana,aku berbaring ditemani sunyi,
menari bersama angin yang ikut mengigau
meraung dan mendesahkan gumaman :
"Aku pulang, ibu..."


Ping Homeric, Topan Asri, Sayuri Yosiana dan 2 lainnya menyukai ini.

Komentar Publish FB :

Imron Tohari
Imron Tohari
Wooowwww...
aku suka sajak ini!

opiniku, (Di)sana > sebaiknya "Di sana" sebab "di" dipakai sebagai kata depan penunjuk/tempat.
... Baca Selengkapnya
Salam lifespirit!
30 Juli jam 12:47 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
sedih membacanya, hiks...
30 Juli jam 12:54 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
aduh, padahal tadi udah di edit....
salah ketik lagi
30 Juli jam 12:55 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
heheheh akhirnya bang imron menyukai sajak ku juga
mb hanna, thanx ya....thanx...
30 Juli jam 12:56 · Hapus
Chin Merry
Chin Merry
@ida g Jd tmbh sdih membacnya
30 Juli jam 13:00 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
thanx ya chin merry
heheheh
30 Juli jam 13:24 · Hapus
Penerbit Kakilangit Kencana
Penerbit Kakilangit Kencana
Sajak ya...
30 Juli jam 13:28 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
amazing..! jadi inget alm. bunda...tp yg akan kukatakan adalah, ibu..pulanglah. sesuatu yg tak mungkin lg.
ih ida, aq jd terharu...dahsyat banget puisimu..hiks
30 Juli jam 14:05 · Hapus
Arif Gumantia
Arif Gumantia
bagus puisimu ida....
masih bisa lebih bagus lagi...untuk permainan metafora dengan mengacu pada logika bahasa...
salam dari madiun
30 Juli jam 15:28 · Hapus
Arta Nauli
Arta Nauli
ah, merampas airmata...
30 Juli jam 19:09 · Hapus
Antok Serean
Antok Serean
benar kata mas imron, di harus dipisah. ku terasa nanggung, sekalian saja aku atau ku digabung dengan kata yang mengikutinya. salam.
30 Juli jam 20:38 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@kaki langit : iya, sajak atau puisi terserahlah orang memaknainya
@sayuri : ehehe, ga nyangka ampe bisa membuat sayuri terharu
@mas arif : iya, kemaren saya terlalu terburu-mengetik, dan mempublish....
@mas arta : maa sih ampe merampas air mata mas arta
@antok : yup, saya kan masih harus banyak belajar... Baca Selengkapnya
hehehhe
30 Juli jam 21:15 · Hapus
Ping Homeric
Ping Homeric
Ida, pulanglah..selalu di pangkuan ibu, segala lelahmu kan sirna, kawan! :) Thanks dah berbagi! :)
31 Juli jam 6:45 · Hapus
Sufriady Saleh
Sufriady Saleh
Si objek penderita dalam puisi ini tidak akan menderita lagi.
10 Agustus jam 3:05 · Hapus
Loektamadji A Poerwaka
Loektamadji A Poerwaka
Mother how are you to day..... here is a note from your daughter..... kayak lagu itu rasanya...
05 September jam 20:28 · Hapus
Sufriady Saleh
Sufriady Saleh
Atau pada bait lagu Betharia Sonata, "Pulangkan saja aku pada ibuku."
06 September jam 3:11 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Loektamadji A Poerwaka : makasih ayah....hiks...mirip ya ayah...
Sufriady Saleh : hehehheeh......ada2 aja mas...
07 September jam 14:36 · Hapus

PENYAIR PINDAH HATI

31 Juli 2009 jam 12:44 | Sunting Catatan | Hapus
PENYAIR PINDAH HATI

Dia membeli sekaleng cat minyak
merah darah
Dia menulis secawan puisi basi
tentang seonggok mimpi
di atas pamflet calon Presiden
Dia ingin sekali meneriakkan sumpah yang juga terasa basi

"Akan aku lanjutkan dengan semakin cepat semakin baik untuk rakyat penggembala cinta ."

Namun-aneh
Tiba-tiba dia menyepi dan sering menyeruput kopi
tak perduli siang maupun pagi
Terakhir kemarin ia tak terlihat lagi menulis puisi
dan mulai rajin memintal-mintal mimpi
di depan televisi

catatan :
terinspirasi dari puisi Binhad Nurrohmat (Penyair Patah Hati)


(30 juli 2009)

Topan Asri, Sayuri Yosiana, Sandra Palupi dan 8 lainnya menyukai ini.

Komentar Publish FB :

Antok Serean
Antok Serean
pemakaian tanda (-) salah, jeng. please, dikoreksi lagi :)
31 Juli jam 12:47 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
hehehheh sorry antok salah etik...
31 Juli jam 12:48 · Hapus
Bayu Soponyono
Bayu Soponyono
Ma kasih sobat, aq banget ne.
Hr ne fbku frenlis d blokir. Ga bs kumen politik.
31 Juli jam 13:06 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
wah, aku juga makasih banget bung bayu mau membaca note2 ku yang sederhana dan perlu lebih banyak pembelajaran
31 Juli jam 13:10 · Hapus
Shaut Ls Hutabarat
Shaut Ls Hutabarat
di singkawang ada rumah sakit jiwa gak? si penyeruput kopi itu entar lagi akan pindah ke sana... hehehheehe... keren puisimu... jujur...
31 Juli jam 13:40 · Hapus
Amik Koofee
Amik Koofee
hi hi ada juga yang begitu ya, menyepi, kopi dan tak lagi menulis puisi wow idenya aku suka hi hi
31 Juli jam 13:47 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
hehehe thanx ya bang shaut......selalu meberi semangat neh
amik, yang bener aja neh suka
31 Juli jam 13:49 · Hapus
Imron Tohari
Imron Tohari
aku suka banget puisi ini, kerasa sekali feelnya.

Keren!

Salam lifespirit!
31 Juli jam 14:07 · Hapus
Penerbit Kakilangit Kencana
Penerbit Kakilangit Kencana
Inspiring
31 Juli jam 14:07 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih bang imron atas komentarnya kalau ada yang kurang kritik aja saya akan senang hati menerimanya
kaki langit : thanxxxxxx yang banyak
31 Juli jam 14:09 · Hapus
Jurnal Sastratuhan Hudan
Jurnal Sastratuhan Hudan
kayaknya puisi ini lebih bagus dari sumber inspirasinya iya kan ida iya
31 Juli jam 15:25 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
ida nursanti basuni, kali ini aku kurang 'terhibur' dengan puisimu ini. aku ingin kau dongengi seperti angela kemarin. asiiikkkkk tenan ! ^_^
31 Juli jam 15:34 · Hapus
Jeppe Indrawisudha
Jeppe Indrawisudha
hey! ada puisi cadas di bilik perempuan ini! salam!
31 Juli jam 15:36 · Hapus
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
Puisi yang indah....
31 Juli jam 16:09 · Hapus
Gus Cholid
Gus Cholid
memang dalam menulis harus ada konsistensi
31 Juli jam 17:24 · Hapus
Ali Fanie
Ali Fanie
mantaaf..
31 Juli jam 19:04 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@bang hudan : wah, saya masih harus terus belajar bang...udah dapet angka 10 belum ne bang???
@mb.anita : kenapa???ga bagus ya mb anita??angela???saya ga pernah menulis angela mb...
@jeppe : makasihhhhhhhh,maturnuhun...
@bang frans: bener ne puisi saya indah???
@gus cholid : thanx, tapi apa saya tidak konsisten ya????
31 Juli jam 19:06 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih alie fanie
31 Juli jam 19:08 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
terimakasih puisi indahmu, Da. Mari ngopi sambil coret-coret puisi.
31 Juli jam 19:15 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
@mb.hanna, kenapa harus berterima kasih mb????,seharusnya saya yang berterimakasih untuk perhatiann dan waktu mb melabuhkan pandangan membaca larik2 puisi saya yang masih banyak harus di benahi
31 Juli jam 19:18 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
berteimakasih pada jari-jari mungilmu yang lincah itu. sudah menarikan kata-kata yang kusuka. semangat ya, Da.
31 Juli jam 19:20 · Hapus
Imam Setiaji Ronoatmojo
Imam Setiaji Ronoatmojo
@ Ida : sebuah karya yg berani & menarik..sy pikir terus eksplor..bila diaduk dengan lagi dengan intensitas subyek..yg atmosfernya (mimpi) berbau politik berkali-kali..aduk dan aduk..saya suka "Akan aku lanjutkan dengan semakin cepat semakin baik untuk rakyat penggembala cinta ."..jd kita ciptakan sebanyakmungkin ungkapan pribadi..kita rayakan dgn idiom aduk dengan peristiwa2 spt puisi diatas..cheers
31 Juli jam 21:17 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
@ Anita Rachmad.... Angela dan Petualang Kecilnya adalah cerpen milik Sayuri Yosiana. ayo, lebih perhatikan karya sahabat......dan hhmm,..sepertinya puisi hebat ini bukan untuk memberi hiburan, tapi untuk mengajak kita berpikir.

Ida,..puisi ini cerdas bermakna tajam! penuh daya sindir yang terasa kuatnya. trusteruslah berkarya.
01 Agustus jam 8:32 · Hapus
Purwono Nugroho Adhi
Purwono Nugroho Adhi
gaya berpuisi yang cemerlang,
tengok ada aktualia sekaligus kontekstualia,
dari kekinian dan kekitaan para pengecer kata
01 Agustus jam 15:10 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
thanx to :
@mb.hanna....yang terus memberi semangat buat saya menulis
@mas imam : cheers juga buat mas....saya merasa masih harus banyak belajar dalam menulis sebuah puisi yang bagus
@sandra : terima kasih atas komentar bahwa puisi ini adalah puisi cerdas, saya cuma berusaha menuliskan yang saya lihat dan saya rasa
@mas purwono : terima kasih atas komennya dan sudah bersedia bertandang di note saya
01 Agustus jam 16:22 · Hapus
Penerbit Kakilangit Kencana
Penerbit Kakilangit Kencana
Menarik... lanjutkan kreativitas menulismu.
02 Agustus jam 0:03 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
"Aku akan lanjutkan dengan semakin cepat semakin baik untuk rakyat penggembala cinta"

wow ida, kata2mu lbh dahsyat dr para politikus sejati hehe
smart poem. kusuka banget. sip sip!
02 Agustus jam 17:11 · Hapus
Sufriady Saleh
Sufriady Saleh
Tett totttttt
Anda mengulang kata basi dan mimpi.
Tapi tetap keren.
10 Agustus jam 2:58 · Hapus

Cerita Hujan

24 Juli 2009 jam 17:41

Hujan turun

Angin bertambah dingin lain dari malam kemarin
mendendangkan perasaan yang tengah layu
yang sempat terjamah hati kemarin.

Sementara tetes hujan itu terus saja mengalir seperti buliran amarah,
yang membabat habis ladang kerinduan
dan reranting kering yang berserakan di tanah Ku

Apalagi yang akan aku harap dari sang Lelap???
selain luka yang telah tentu busuk
meskipun ku tau rindu itu, rindu pada tanah Ku,
berabu candu
mempertebal sesal


Sayuri Yosiana, Topan Asri dan 2 others menyukai ini.

Komentar Publish FB :

Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Aduh, Idaaaa...!
Ini hanya puisi kan? Ntar ada yang patah hati loh. Membabat habis ladang kerinduan. Wuih! Kejam nian! Hahaha...

Da, maaf ya. Aku membaca sajak-sajakmu tentu bukan di FB saja. Ntah napa aku merasa puisi ini kurang mantap dibanding puisi-puisimu yang lain. Yang indah mendayu-dayu meski itu cerita luka. Puisi ini, menurutku loh, ya, ... Baca Selengkapnyaagak tergesa-gesa dilahirkan. Barangkali kurang endapan. Wuih! Sudah ah. Muaaaah333x. Smile. Maafkan daku ya. Sekali ini aja komen yang kurang menyenangkan. Hiks...Tapi aku jujur sebagai pembaca puisimu.
24 Juli jam 17:56 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
kukira hanya aku saja yang merasa kurang sreg dgn cerita hujan ini.
pada rasaku, puisi ini kurang menyatu maknanya. bahkan bisa dibilang kabur ke manamana. tidak fokus. mungkin benar kata mbak hanna, saat di cetak, dalam kondisi terburuburu dan kurang fokus.
apakah begtu banyak kerjaanmu yang menumpuk ida nursanti basuni ? hingga menghilangkan sdkt konsentrasimu.
^_^
24 Juli jam 18:21 · Hapus
Amik Koofee
Amik Koofee
salam kenal ya, ida. hi hi

semangaaaaattt... thanks udah di tag
24 Juli jam 18:40 · Hapus
Nunung Martin
Nunung Martin
ida... mba nda kuat..........ingin rasanya aku hidup sekali lagi.agar bsa merangkai kata buat yang tercinta namanya kekasih.tapi apa daya hati ni tak kuasa........ia hanya sanggup bicara dalam hati tampa ada yg tau .....kututup rapat hati ini.
24 Juli jam 19:23 · Hapus
Shaut Ls Hutabarat
Shaut Ls Hutabarat
aku bersetuju dengan Hanna & Anita. Kubaca berulang, aku sulit menangkap arah mana yang dituju puisimu. Awalnya, aku berpikir tentang penebangan liar hutan Kalimantan, yang mana dirimu sebagai penulis merindukan ladangmu yang teduh sehingga hujan tidak menikamkan amarahnya. Lantas Ida berbicara tentang "berabu candu", yang saya persepsikan bahwa ... Baca Selengkapnyaladang/hutanmu yang dulu lebat telah berubah jadi ladang ganja [simbolik candu] - Apakah itu yang Ida sesalkan?

Teruslah berkarya walau dikritik habis-habisan. Kritik teman-teman ini masih banyak santunnya, lho. Biarlah kita dibesarkan oleh kritik. Peace!
24 Juli jam 20:51 · Hapus
Iwan Gunawan
Iwan Gunawan
wuih .. wuihh .. selalu larik-larik lembut serasa aroma mawar saat rindu, .. ..namun serasa ada yang menghalagi untuk digapai ...
24 Juli jam 20:56 · Hapus
Arif Gumantia
Arif Gumantia
hujan memang memang bisa menginspirasi.....bisa mengalirkan kata-kata yang indah...
salam dari madiun
24 Juli jam 21:05 · Hapus
Ario Virzha
Ario Virzha
usuuuuu pa kabraaaa
24 Juli jam 21:54 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
nah ne dia yang aku tunggu2.......
@mb.hanna&mb.anita : hehehhe sebenernya kemaren saat membuat puisi ne hujan turun dengan deras di singkawang, hujan pertama setelah berbulan2 tidak turun hujan dan setelah singkawang kota tercinta habis gelap tertutupi kabut, iseng2 sekalian berhadiah, masalahnya ingin di kritik oleh mb hanna dan mb anita gt loh
heheheheheh, habisss, lagi pengen ada yang membangkitkan semangat
@amik : salam kenal juga dari singkawang
@nunung : bunda selalu romantis ne ya... Baca Selengkapnya
@bang shaut : aku suka kritikan.....sumpah, itu yang membuat kita merasa di perhatikan dan di sayangi, sebenernya aku memang mau menulis tentang pembalakan hutan dan tentang suku2 di pedalaman yang tergusur,,,,,tapi lama2 kok aku jadi ingin menulis hati yang gamang oleh cinta ya, hehehehehhehe,
@ko2 iwan : puisi ne ku buat kurang waktu, habis udah mau maghrib.....thanx ya ko2....
@kang arif : salam juga dari kotaku yang panasssssssss
@ario/ocan : bile balik???????
25 Juli jam 16:05 · Hapus
Andreas Stiven
Andreas Stiven
hujan membuat sang penulis teringat akan luka lama ?
25 Juli jam 17:23 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
hehehehehhe
iya stive
luka saat melihat dan merasakan banjir gede awal tahun 2009 yang ampe 2 kali itu
25 Juli jam 17:25 · Hapus
Andreas Stiven
Andreas Stiven
HAH ?

kapan banjir ?
25 Juli jam 17:26 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
ya ampuunnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
awal tahun 2009 pas bulan \januari
25 Juli jam 17:29 · Hapus
Andreas Stiven
Andreas Stiven
oalah

kenapa saya tidak tahu ?????

sedih :'(
25 Juli jam 17:30 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
sweet poem ida, 1 like it
29 Juli jam 2:42 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
thanx sayuri....
29 Juli jam 13:29 · Hapus